jump to navigation

Microhydro Power Technology Desember 1, 2009

Posted by aditkus in Save our Environment.
Tags: , , , ,
trackback

Indonesia memiliki sumber daya alam yang melimpah salah satunya minyak, bahan bakar fosil. Seperti yang sudah kita ketahui beberapa waktu yang lalu Indonesia hingga sekarang Indonesia khususnya mengalami krisis energi yang disebabkan naiknya harga minyak yang tidak disangka-sangka. Dengan adanya kejadian-kejadian seperti itu membuat pemerintah “cekat-cekot” dan mau tidak mau masyarakat harus menerima imbas kenaikan BBM walaupun sekarang diusahakan akan diturunkan kembali (Cuma turun Rp500 doank). Hal ini juga berimbas terhadap PLN sebagai penyuplai listrik dari laptop yang sedang saya gunakan ini.

Imbas naiknya harga minyak dunia sangat terasa dan diramalkan Indonesia akan mengalami krisis energi kedepannya bila masalah ini tidak dapat diatasi. Sudah sewajarnya Indonesia mulai mencari energi alternatif yang bisa diperbaharui. Di negara-negara maju pasokan energi listrik mulai lepas dari ketergantungan minyak walaupun belum sepenuhnya, ambil contoh Prancis hampir 60% pasokan listriknya disuplai dari energi nuklir (sering didemo sama greenpeace).

Sudah sejak lama arus dan tekanan air dimanfaatkan untuk menghasilkan energi listrik. Dimulai sejak 900 tahun yang lalu di Britania Raya, jumlahnya meningkat secara pasti pada sekitar abad ke-19, ada sekitar lebih dari 20.000 hydropower untuk di Inggris sendiri. Eropa, Asia, dan sebagian di Afrika kincir air telah digunakan sebagai penggerak dalam beberapa permesinan industri, seperti penggilingan dan memompa. Turbin air yang efektif pertama kali muncul di pertengahan abad ke-19, tidak begitu lama sebelum mereka  menggantikan kincir air dalam banyak penerapan.

Berlawanan dengan kincir air dan awal turbin, turbin modern ringkas, sangat efisien dan mampu berputar pada kecepatan sangat tinggi. Tenaga air adalah suatu teknologi  dengan baik terbukti, bersandar pada suatu yang non-polusi, sumber daya berasal dari alam dan dapat diperbaharui, dapat mengintegrasikan secara mudah dengan persediaan air proyek dan irigasi. China sendiri mempunyai lebih dari 85.000 pembangkit listrik microhydro.( http://www.google.co.id/ The Schumacher Centre for Technology and Development/, akses 13 April 2008, 7:15 PM ).

Bagaimana dengan Indonesia? Untuk di Indonesia sendiri microhydro sudah dimanfaatkan sejak zaman kolonialisme Belanda. Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro ( PLTMH ), yaitu alat yang menghasilkan listrik dengan menggunakan sumber tenaga air. Mikro menunjukkan ukuran kapasitas pembangkit, yaitu antara 5 kW sampai 100 kW. Namun tenaga air yang di manfaatkan sebagai listrik tidak hanya bersifat mikro saja. Sebenarnya PLN mempunyai beberapa energy source yang non-migas, sehingga dalam operasional tidak terlalu terkena imbas dari kenaikan harga minyak dunia. Sumber pembangkit yang dapat menjadi pilihan adalah pembangkit listrik dengan menggunakan tenaga air, atau dalam skala yang lebih kecil disebut sebagai microhydro power technology. Namun dalam kegiatan operasional dirasakan belum banyak memberikan manfaat bagi pelanggan/ pengguna, hal ini disebabkan oleh beberapa masalah seperti energi yang dihasilkan kurang besar, sangat bergantung pada alam dan musim, dan pengelolaan pembangkit yang belum jelas sistematika operasionalnya.

Cara kerja PLTMH secara sederhana adalah :

”Air dalam jumlah tertentu yang dijatuhkan dari ketinggian tertentu menggerakkan kincir yang ada pada Turbin PLTMH, kemudian putaran Turbin tersebut digunakan untuk menggerakkan Generator (dinamo penghasil listrik)”.

Dalam pengolahan air menjadi energi listrik PLTMH memiliki bagian-bagian, yaitu :

  1. 1. Saluran Pengambilan (Intake) dan Bendung/weir.
  2. 2. Saluran Pembawa ( headrace ).
  3. 3. Bak Pengendap/ Bak Penenang (Forebay).
  4. 4. Pipa pesat (Penstock).
  5. 5. Rumah Pembangkit ( Power House ).
  6. 6. Turbin
  7. 7. Generator
  8. 8. Panel atau Peralatan Pengontrol Listrik.
  9. 9. Jaringan transmisi kabel listrik

Setiap bagian dari PLTMH tersebut akan menjadi dasar bagi pembebanan biaya operasional.

Gambar 3.4 Layout of a typical micro hydro scheme

Sumber : http://www.google.co.id/ The Schumacher Centre for Technology and Development/, akses 13 April 2008, 7:15 PM

Beberapa hambatan ( kelemahan ) yang sering ditemui dalam pengoperasian PLTMH adalah :

  1. Air : Besarnya listrik yang dihasilkan PLTMH tergantung pada tinggi jatuh air dan jumlah air. Pada musim kemarau kemampuan PLTMH akan menurun karena jumlah air biasanya berkurang.
  2. Ukuran generator : berpengaruh namun tidak menjadi faktor yang signifikan.
  3. Jumlah pelanggan : semakin banyak pengguna daya listrik harus diatur.
  4. Jarak : Semakin dekat jarak Pelanggan ke Pembangkit, maka kualitas listrik juga lebih baik. Semakin jauh jarak pelanggan, maka listrik yang hilang juga semakin banyak. Jarak pelanggan terjauh yang dianjurkan adalah antara 1-2 km. dari PLTMH.
    1. Penggunaan listrik oleh pelanggan.

Biaya Pembangunan :

Pembangunan fisik PLTMH dapat dibagi 3 Item Pekerjaan masing-masing :

Pekerjaan civil, Mechanical dan Electrical. Untuk pekerjaan Civil dibangun dari biaya PPK dan pekerjaan/ penyediaan Mechanical dan electrical berupa Turbine, Electrical Load Control (ELC), Panel listrik dan Generator dari biaya MHPP-GTZ sedangkan pengadaan/ pemasangan Instalasi listrik dilakukan atas biaya swadaya masyarakat pemanfaat. adapun besarnya dana yang dibutuhkan untuk pembangunan fisik PLTMH rata-rata berkisar antara Rp.150.000.000,- s/d 350.000.000,-

Demi keberlanjutan proyek, maka telah dilakukan pelatihan-pelatihan kepada masyarakat pengelola antara lain :

1. Baseline training

2. Pelatihan Manajemen dan Administrasi untuk pengurus Unit Pengelola Turbin (UPT)

3. Pelatihan Operator Turbin

Selain pembinaan/ peningkatan kapasitas dilakukan untuk masyarakat pengelola, juga dilakukan pembinaan kepada Counterpart lokal serta dinas pemerintah terkait.

Sebagai tambahan dibawah ini merupakan beberapa energy resource non-migas yang dimiliki oleh Indonesia:

– Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA), 3.184 MW
– Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD), 3.073 MW
– Pembangkit Llistrik Tenaga Uap (PLTU), 6.800 MW
– Pembangkit Listrik Tenaga Gas (PLTG), 1.748 MW
– Pembangkit Listrik Tenaga Gas dan Uap (PLTGU), 6.241 MW
– Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP), 380 MW

Komentar»

1. digital-thinker - Februari 11, 2010

info yang bagus bung, trims yo…

2. ihsan - Maret 12, 2010

sangat bagus sekali. karena di tempat kelahiran saya yaitu Belinyu – Babel sangat susah ,emdapatkan pelayanan listrik. di karena kan ketidak tahuan masyarakat terhadap teknologi yang seperti ini. bisakah saya minta tolong di bantu untuk data yang lebih sederhana. seperti pembangkit listrik tenaga air tapi kapasitasnya cukup utuk 1 rumah atau 2 rumah.

aditkus - Maret 12, 2010

waduh mas saya sendiri bukan mahasiswa teknik jadi kurang paham. Kalo sepengetahuan saya dari teman saya yg pernah melakukan penelitian yang jelas satu turbin kecil (serumah gedenya) yang digerakkan air sungai bisa mengaliri listrik satu kampung. coba googling aja deh

3. presta putri - Mei 10, 2010

aq jg sangat suka dengan adanya kemajuan teknologi

4. Rianty - Mei 31, 2010

indonesia memang kaya…
tapi belum termanfaatkan maksimal…

5. andika - Maret 8, 2011

bagaimana dengan tenaga angin dan tenaga nuklirnya??

aditkus - Maret 22, 2011

tenaga angin masih belum efisien, yang paling menguntungkan sekarang ini ya make tenaga nuklir namun ya itu resikonya besar bila tidak dikelola dengan baik


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: