jump to navigation

Wabah Narsis Desember 1, 2009

Posted by aditkus in Daily Life.
Tags: , ,
trackback

Dalam mitologi yunani, konon ada seorang pemuda yang bernama narcissus. Suatu hari dia berjalan menyusuri danau lalu dia ingin meminum air danau tersebut. Pada saat membungkuk untuk mengambil air tersebut dia begitu terkesima dengan bayangan dirinya di air danau tersebut sehingga membuat dia jatuh cinta terhadap bayangan dia sendiri. Ia mencoba mengulurkan tangannya untuk mencium bayangannya sendiri, namun sayangnya dia malah tergelincir kedalam danau tersebut dan akhirnya meninggal. Para dewa mereinkarnansi jasadnya menjadi bunga yanag dinamai narcissus.

Wabah narsis 2.0 mulai menyerang masyarakat indonesia sejak adanya invasi teknologi informasi. Orang ramai-ramai ngeblog, sekedar untuk menunjukkan kalau diri mereka ada “exist” lalu adanya perangkat kamera vga di ponsel yang bisa di bawa kemana-mana dengan mudah. Alhasil lengkaplah sudah ditambah lagi adanya jejaring sosial macam friendster dan facebook. Bisa kita lihat orang-orang berlomba-lomba supaya namanya bisa muncul saat mesin pencari seperti google dan yahoo. Indikator terkenal bisa dilihat seberapa banyak orang memberikan komentar terhadap foto dan hal-hal yang ditulis sang pemilik jejaring sosial bahkan kalo perlu asal comot saja dari bllognya orang.

Jejaring sosial belakangan mulai jadi wabah tulisan-tulisan aneh yang bikin sakit mata kalau membacanya, mulai dari tulisan besar kecil yang selang-seling sampai memakai emoticon yang macam-macam. Yang paling parah adalah adanya bahasa-bahasa prokem yang berkembang pesat, seperti kita tahu dibeberarpa artikel ini disebutkan sebagai “ancaman bagi bahasa Indonesia” dan bahasa daerah yang lainya yang mulai kurang dituturkan oleh masyarakat muda.

Saat ini penderita narcissistic personality disorder (NPD) nampaknya justru kian akut. Dengan kehadiran facebook yang dianggap sangat mewakili diri sesorang di dunia maya agaknya membuat dunia narcisme semakin populer. Banyak orang membeli balckberry yang pada awalnya digunakan oleh exekutif muda dan para pebisnis, kini bahkan anak sekolah pun dikota-kota besar sudah ada yang punya. Mejeng di kafe dan mall menjadi suatu ritula rutin bagi pengggila blackberry. Hasilnya alat secanggih itu hanya dipakai sebagai pamer gadget yang belum jelas apakah sang empu blackberry bisa memaksimalkan semua fitur-fitur dan layanan yang ada. Seperti yang kita tahu blackberry memang dirancang sebagai alat yang dapat merima pesan email dengan cepat dimanapun kita berada, apabila itu digunakan di Indoenesia yang notabene masyarakatnya belum familiar dengan email maka hal ini bisa dikatakan  mubazir.

Sewaktu SMA dulu, laptop merupakan barang ajaib buat saya yang belum pernah mengenal laptop. Pada saat awal kuliah pun laptop belum sebomming sekarang, baru pada akhir tahun 2007 laptop sudah mulai banyak berseliweran dikampus. Bisa dilihat berbagai macam merk ada semua dari yang paling mahal sampai yang paling murah. Dulu bermain laptop merupakan privilege executive muda, tapi sekarang sudah banyak anak muda yang pamer laptop (sekarang anak SMP dan SMA bawaannya laptop) di tempat-tempat hotspot. Masa bodo dengan dengan spesifikasi bahkan kalau perlu beli MacOS yang tampilan imut nan cantik walau belum tentu paham mendayagunakannya. Hotspot jadi target utama demi mengakses Facebook atau bermain game online (kalau di kampus saya sudah di blokir situs-situs jejaring sosial seperti ini), dengan cueknya hanya minum satu gelas tapi berselancar bisa berjam-jam di café.

Sekarang kamera dengan pixel yang tinggi bukanlah harga yang mahal lagi bahkan beberapa HP sudah mengkhususkan diri untuk masalah jepret-menjepret ini. Foto album penuh dengan foto-foto sendiri, lebih parahnya teman-teman yang lain juga di tandai di foto tersebut agar memberikan komentar. Facebook dan jejaring sosial lainnya memang fenomena, ia bisa membuat penggunanya seolah wartawan infotainment yang selalu memburu informasi tentang dapur orang lain. Ia membuat penggunanya sibuk memelototi status orang lain, memberi komentar, atau bergantian menulis di wall orang lain. Sama seperti yang terjadi di Friendster, makin gaul di Facebook berarti makin eksis. Hari ini add 100 orang, besok 200, minggu depan 1000 orang—-padahal yang benar-benar dikenal cuma 50an saja.

Bisa disimpulkan bahwa we have trained our selves and our communities to be narcissistic. Memang benar, Freud pernah mengatakan bahwa narsis “is an essential part of all of us from

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: