jump to navigation

Cinta … dan waktu … Januari 30, 2010

Posted by aditkus in Contemplation.
Tags: ,
trackback

Alkisah di suatu pulau kecil, tinggallah berbagai
macam benda-benda abstrak: ada Cinta,
Kesedihan, Kekayaan, Kegembiraan dan
sebagainya. Mereka hidup berdampingan
dengan baik. Namun suatu ketika, datang badai
menghempas pulau kecil itu dan air laut tiba-
tiba naik dan akan menenggelamkan pulau itu.

Semua penghuni pulau cepat-cepat berusaha
menyelamatkan diri. Cinta sangat kebingungan
sebab ia tidak dapat berenang dan tak
mempunyai perahu.

Ia berdiri di tepi pantai mencoba mencari
pertolongan. Sementara itu air makin naik
membasahi kaki Cinta.

Tak lama Cinta melihat Kekayaan sedang
mengayuh perahu.

“Kekayaan! Kekayaan! Tolong aku!” teriak
Cinta.

“Aduh! Maaf, Cinta!” kata Kekayaan, “perahuku
telah penuh dengan harta bendaku. Aku tak
dapat membawamu serta, nanti perahu ini
tenggelam. Lagipula tak ada tempat lagi bagimu
di perahuku ini.” Lalu Kakayaan cepat-cepat
mengayuh perahunya pergi.

Cinta sedih sekali, namun kemudian dilihatnya
Kegembiraan lewat dengan perahunya.

“Kegembiraan! Tolong aku!”, teriak Cinta.
Namun Kegembiraan terlalu gembira karena ia
menemukan perahu sehingga ia tak mendengar
teriakan Cinta.

Air makin tinggi membasahi Cinta sampai ke
pinggang dan Cinta semakin panik.

Tak lama lewatlah Kecantikan.

“Kecantikan! Bawalah aku bersamamu!”, teriak
Cinta.

“Wah, Cinta, kamu basah dan kotor. Aku tak
bisa membawamu ikut. Nanti kamu mengotori
perahuku yang indah ini.” sahut Kecantikan.
Cinta sedih sekali mendengarnya.

Ia mulai menangis terisak-isak. Saat itu
lewatlah Kesedihan.

“Oh, Kesedihan, bawalah aku bersamamu,”
kata Cinta.

“Maaf, Cinta. Aku sedang sedih dan aku ingin
sendirian saja…” kata Kesedihan sambil terus
mengayuh perahunya.

Cinta putus asa. Ia merasakan air makin naik
dan akan menenggelamkannya.

Pada saat kritis itulah tiba-tiba terdengar
suara, “Cinta! Mari cepat naik ke perahuku!”

Cinta menoleh ke arah suara itu dan melihat
seorang tua dengan perahunya. Cepat-cepat
Cinta naik ke perahu itu, tepat sebelum air
menenggelamkannya. Di pulau terdekat, orang
tua itu menurunkan Cinta dan segera pergi lagi.

Pada saat itu barulah Cinta sadar bahwa ia
sama sekali tidak mengetahui siapa orang tua
yang menyelamatkannya itu. Cinta segera
menanyakannya kepada seorang penduduk tua
di pulau itu, siapa sebenarnya orang tua itu.

“Oh, orang tua tadi? Dia adalah Waktu.” kata
orang itu.

“Tapi, mengapa ia menyelamatkanku? Aku tak
mengenalnya. Bahkan teman-teman yang
mengenalku pun enggan menolongku” tanya
Cinta heran.

“Sebab,” kata orang itu, “hanya Waktu lah yang
tahu berapa nilai sesungguhnya dari Cinta
itu …”

M.Yusuf, ST

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: