jump to navigation

Prinsip Aikido Secara Teknis Februari 7, 2010

Posted by aditkus in Aikido.
Tags:
trackback

Dalam hal apapun, bentuk sikap menunjukkan kondisi mental seseorang. Maka dalam Aikido, diperlukan sebuah sikap (kuda-kuda) yang dilakukan sedemikian rupa sehingga memunculkan kondisi mental yang siaga namun tidak tegang.
Kuda-kuda dalam Aikido tidak dilakukan dengan kaku–yang hanya akan membuat setiap gerakan tegang dan tidak mengalir. Kuda-kuda harus dibuat sedemikian rupa sehingga akan menunjang setiap gerakan dalam Aikido. Walau demikian, sikap (kuda-kuda) harus tetap dalam keadaan dimana titik keseimbangan tubuh dalam posisi yang stabil sehingga tidak mudah digoyahkan. Sikap ini adalah ketika kita mampu menempatkan berat badan pada posisi terendah dan berkonsentrasi pada satu titik (hara: dua inci di bawah pusar).

MA AI, “Jarak yang sesuai”

Sebuah pertarungan, secara alamiah akan memerlukan suatu jarak yang sesuai, dimana si penyerang dapat melancarkan serangan dengan efektif, ataupun si pembela diri dapat melakukan pertahanan dengan tepat.
Dengan memahami konsep ruang gerak/pertarungan yang ada di sekelilingnya (depan, samping, belakang) secara baik, seorang Aikidoka harus mampu mengukur jarak yang tepat bagi dirinya dengan lawan dalam mengaplikasikan setiap waza atau menetralisir setiap serangan yang mungkin ada.

KUZUSHI, “Menggoyahkan keseimbangan lawan”

Suatu serangan tentu akan baik bila si penyerang mampu menjaga keseimbangan tubuhnya dengan baik pula. Sehingga bila posisi tubuh lawan stabil, maka tentunya teknik Aikido apapun sangat sulit untuk dapat diterapkan. Hal ini mengingat bahwa lawan tidak akan mungkin “memberikan” dirinya begitu saja untuk dijatuhkan dan dia akan mencari cara untuk “melepaskan diri” dari teknik apapun apabila ia memang masih mampu untuk melakukan itu. Taknik Aikido hanya akan berhasil diaplikasikan ketika kondisi lawan tidak bisa menghindar lagi, dengan kata lain ia sudah “tidak punya pilihan lain” selain menerima teknik yang diterapkan padanya. Situasi seperti ini hanya akan terjadi ketika lawan sudah tidak memiliki kontrol atas tubuhnya sendiri. Untuk itulah pentingnya menghilangkan keseimbangannya terlebih dahulu.

ATEMI, “Menghilangkan konsentrasi lawan”

Secara harfiah, atemi berarti teknik pukulan/serangan. Dalam Aikido, atemi punya peranan yang penting sebagai penghilang konsentrasi lawan. Aikido tidak menggunakan atemi sebagai alat untuk menghancurkan lawan, karena teknik Aikido tidak diutamakan untuk merusak melainkan hanya sekedar melumpuhkan lawan.
Seperti halnya keseimbangan, seorang lawan akan sulit dilumpuhkan saat ia memiliki konsentrasi serangan yang sempurnna. Maka dengan atemi, seorang pembeladiri akan mencuri kesempatan dibalik kelengahan si penyerang yang mungkin hanya sepersekian detik namun sudah cukup memberinya waktu untuk mengaplikasikan waza Aikido.
Atemi tidak mutlak harus berbentuk serangan dimana sesuai dengan maksud dan tujuannya dalam Aikido, maka Atemi dapat berupa teknik apapun yang mampu menggoyahkan kemampuan fisik dan mental lawan.

SHIKAKU, “Sudut Mati”

Gelombang serangan yang datang bertubi-tubi tentunya akan sangat sulit untuk diantisipasi bila hanya terfokus pada serangan tersebut. Dengan memasuki ‘sudut mati’ (blind spot) lawan, maka serangan apapun akan terhenti karena sesaat kita seperti “hilang” dari jangkauan lawan.
Dalam prinsip ini, seorang Aikidoka harus mampu menempatkan posisi tubuhnya sedemikian rupa sehingga ia berada dalam posisi yang mampu menjangkau lawan, sebaliknya lawan tidak mampu menjangkaunya. Dengan kata lain, “dekat bagi kita namun jauh bagi lawan”.

SUKI, “Celah kelemahan lawan”

Suki disini mencakup semua hal yang sudah dijelaskan sebelumnya. Kelemahan lawan bisa muncul kapan dan dimana saja, tergantung kejelian si pembela diri untuk menemukan untuk kemudian memanfaatkannya dengan baik.
Suki dapat berupa bagian tubuh lawan yang terbuka tanpa perlindungan; dapat juga kesempatan yang muncul ketika lawan goyah keseimbangannya atau hilang konsentrasinya. Bila mampu memanfaatkan suki dengan baik, maka waza Aikido akan mampu diterapkan tanpa perlu mengeluarkan banyak tenaga.

RIAI, “Berkarakter pedang”

Harus dipahami bahwa semua serangan yang datang itu laksana pedang; jangan membloknya. Justru seorang pembela diri harus keluar dari garis serang dan mengalirkan serangan yang datang, sehingga ia tidak akan mengalami benturan dengan lawan.
Dan harus disadari pula bahwa teknik Aikido dikembangkan dari teknik pedang sehingga dalam mengaplikasikan setiap teknik harus selalu menyadari bahwa kita sedang “memainkan pedang” yang direpresentasikan dalam setiap teknik Aikido.

CHUSIN, “Garis tengah/Center Line”

Segala sesuatu selalu memiliki garis tengah / garis pusat sebagai titik pusat tumpuan atau poros keseimbangan. Pada tubuh manusia garis pusat keseimbangan dimulai dari titik seika tanden yang berada kira-kira 3 jari dibawah pusar. Kemudian ditarik garis lurus keatas melalui bagian tengah tubuh hingga berakhir pada ubun-ubun kepala dan dari tanden ditarik garis lurus kearah bawah, sehingga jatuh tepat diantara dua kaki pada posisi Shizen Tai. Pada saat anda berkonsentrasi di garis tengah tersebut, anda akan merasa lebih seimbang, stabil dan terfokus. Posisi selanjutnya untuk melatih Chusin adalah pada posisi Kamae. Pada posisi ini anda dapat melihat dan merasakan keberadaan Chusin sebagai garis imajiner dalam latihan. Bagi para pemula, wajib untuk mengkonsentrasikan setiap gerakan dan tehnik yang mereka lakukan pada Chusin. Fokuskan tubuh, tangan, pinggang dan kaki dalam satu garis lurus. Bergeraklah secara simultan.

Chusin juga berfungsi sebagai garis penghubung antara anda dan lawan, bagaikan jembatan yang menghubungkan 2 daratan yang terpisah. Chusin dapat menghubungkan “KI” anda dan “KI” lawan anda dalam sebuah garis lurus. Apabila Ki anda telah menjadi sebuah garis lurus dengan lawan anda, maka secara otomatis lawan akan kehilangan garis keseimbangannya dan akan terikat dengan garis keseimbangan anda. Maka dengan demikian, anda dapat mengendalikan lawan anda dengan ringan dan mudah, tanpa mengalami konflik.

Bersamaan dengan lamanya waktu anda berlatih, maka Chusin akan bertransformasi menjadi sebuah garis energi yang lambat laun akan melebur dengan gerakan anda secara alami/natural. Pada saat itu, kemanapun anda mengarahkan pikiran anda dan kemanapun tubuh anda bergerak, maka disanalah Chusin berada. Anda tidak lagi bergerak mengikuti garis tengah, tetapi garis tengahlah yang mengikuti gerakan anda. Setelah anda mencapai level ini, maka anda tidak lagi terikat dengan gerakan baku. Bergeraklah secara bebas dan natural, karena lawan telah menjadi satu bagian dengan anda.

ENSHIN, “Poros Lingkaran”

Hakikat dari tehnik-tehnik Aiki adalah sebuah lingkaran yang sempurna, tidak terputus ataupun terpatahkan. Bagaikan air yang mengalir tanpa gangguan atau seperti ritme nafas kehidupan yang terus berhembus hingga akhir waktu.

Gambaran esensi tehnik Aiki adalah seperti sebuah pusaran yang berbentuk spiral, dimulai dari sebuah lingkaran yang sangat besar dan kemudian mengecil, mengecil, mengecil, sehingga menjadi sebuah titik. Pusaran tersebut tidak berhenti sampai disitu saja, melainkan terus berputar sehingga titik tersebut lenyap dan tidak terlihat oleh mata. Sebagian orang akan menyangka dengan hilangnya titik tersebut, maka hilanglah pula pusaran tersebut. Tetapi pada hakikatnya pusaran itu terus berputar, walaupun mata kita tidak mampu lagi melihatnya.

Demikianlah tehnik-tehnik Aiki bekerja. Pada level awal, selalu diawali dengan lingkaran-lingkaran yang besar sehingga dengan kasat mata orang dapat melihat dan mengikutinya dengan jelas dengan demikian seseorang dapat mempelajari bentuk-bentuk teknik dengan mudah. Sejalan dengan bertambahnya pengetahuan dan pengalaman anda dalam memahami kebijaksanaan Aiki, maka secara alamiah lingkaran-lingkaran tersebut akan mengecil dan terus mengecil sehingga tidak dapat tertangkap oleh mata orang yang tidak terlatih. Pada tingkatan tersebut, tehnik akan sulit sekali dipahami bagi mereka yang tidak memiliki pengetahuan dan pengalaman tentang Aiki. Maka pada tingkatan ini seseorang praktisi akan lebih memfokuskan latihannya dalam bentuk pengalaman tubuh secara langsung dengan merasakan keadaan yang disebut dengan “kondisi aiki”. Latihan seperti ini disebut “taitoku” (learn through experience). Akhirnya pada tingkatan yang lebih lanjut, seseorang dapat saja tidak lagi perlu melakukan kontak secara fisik dengan lawannya untuk melakukan sebuah teknik. Hal ini disebabkan karena energi gerak fisikal yang bersandar pada sifat kedirian seseorang telah berubah menjadi energi universal yang menyatu secara keseluruhan dengan apapun yang ada disekelilingnya dan mengikatnya sejak awal. Nilai yang disebut lingkaran kecil tanpa garis dalam dan lingkaran besar tanpa garis luar.

Dalam sebuah hukum tentang Aiki, dijelaskan pula bahwa pada saat pusaran energi materiil membesar, maka besaran energi imateriil akan mengecil. Begitupun sebaliknya, jika energi imateriil membesar, maka energi materiil mengecil. Bila mana anda telah memahami ini, maka anda telah memahami prinsip Enshin dalam Aiki.

SU CHU, “Fokus pikiran”

Setiap melakukan teknik apapun, fokus pikiran sangatlah penting. Dalam penerapan teknik, fokuskan terlebih dahulu pikiran anda. Berpikirlah lurus sebelum melakukan gerakan lurus. Berpikirlah tentang putaran sebelum bergerak memutar. Jadikan pikiran sebagai pemimpin dan penyatu kekuatan kita, untuk mengkoordinasikan tubuh dan pikiran hingga sampai pada apa yang disebut, ‘Ken Zen Ichi Nio’* atau Moving Zen.

KOKYU, “Kekuatan Napas”

Menggunakan Kokyu (pernapasan) sangatlah penting untuk menentukan momentum yang tepat untuk mengaplikasikan teknik. Dalam Aikido, Kokyu dihubungkan dengan In-Yo (Yin-Yang, Cina). Didasari oleh dua macam kontraksi pernapasan, yaitu menghirup (inhale) disimbolkan dengan In (Yin) dan menghembuskan (exhale) Yo (Yang). Ketika seseorang bersiap melakukan suatu gerakan, biasanya ia akan mengawalinya dengan menarik napas (In) untuk mengumpulkan tenaga dan bila melakukan diiringi dengan hembusan napas (Yo). Berdasarkan prinsip ini, momentum terbaik untuk mengaplikasikan teknik adalah ketika lawan masih dalam posisi In. Bila diterapkan teknik pada keadaan ini, maka napas lawan akan tersentak balik dan napasnya terpotong. Dalam situasi ini teknik akan mudah diaplikasikan pada lawan.

AWASE, “Mengalir” dan MUSUBI, ”Berpadu”

Awase dan Musubi merujuk pada sebuah hal yang sama, yakni upaya untuk melakukan harmonisasi/penyelarasan.
Setiap teknik harus dilakukan secara mengalir dan rileks. Penerapan secara terpatah-patah akan memunculkan banyak kesempatan untuk meloloskan diri dari setiap teknik dan menjadikan teknik tidak akan efektif karena aliran tenaga yang terhambat. Bila teknik dilakukan secara mengalir, akan mampu membuat lawan “tersedot” ke dalam “pusaran” yang dibuat oleh si pembela diri, bagaikan sebuah angin tornado yang mampu melarutkan dan menyatukan benda apapun (berpadu) yang ada didalamnya.
Dalam Aikido, kemampuan si pembela diri untuk berpadu dengan lawan dikarenakan kemampuannya untuk merasakan kondisi lawan; energi, emosi, keinginan dsb. Bagaikan dua utas tali yang disatukan (Musubi: simpul tali), maka ketika ujung satu ditarik maka ujung lain akan mengikuti. Demikian pula pada setiap penerapan waza Aikido, saat lawan ingin bergerak ke suatu arah, maka si pembela diri akan menyesuaikan dengan situasi itu. Saat si penyerang ingin melakukan suatu gerakan, kembali si pembela diri mengadaptasikan diri dengan respon/teknik yang sesuai. Dalam hal ini, si pembela diri tidak boleh menentang “arus” yang dibuat oleh si penyerang, karena itu akan menguras tenaga lebih banyak tenaga.

ZANSHIN, “Follow Through/Kewaspadaan”

Satu hal yang tampak sepele namun sering terlupakan adalah kewaspadaan yang harus dilakukan setiap saat, baik saat menghadapi serangan lawan ataupun ketika serangan itu sudah dapat dilumpuhkan. Yang sangat harus diperhatikan, bahwa ketika serangan lawan berhasil dilumpuhkan, bukan berarti bahaya sudah lewat. Justru kewaspadaan harus lebih ditingkatkan, karena kelengahan dapat menyebabkan lawan yang tampaknya sudah tidak berdaya memiliki kesempatan kedua untuk menyerang kembali.
Dalam keadaan dimana terjadi penyerangan dilakukan lebih dari seorang, Zanshin dilakukan dengan cara berkonsentrasi pada penyerang laionnya khususnya yang berada di area yang tak terlihat mata dengan tidak mengurangi fokus pada lawan yang telah dijatuhkan/dikuas

sumber: asal comot aja🙂

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: