jump to navigation

Lapang Dada! Februari 14, 2010

Posted by aditkus in Contemplation.
Tags:
trackback

Suatu ketika, hiduplah seorang tua yang bijak. Pada suatu pagi, datanglah seorang anak muda yang sedang dirundung banyak masalah.Langkahnya gontai dan mukanya kusut, tampak tak bahagia.

Pemuda itu menceritakan semua masalahnya.Pak tua yang bijak hanya mendengarkan dengan seksama. Lalu ia mengambil segenggam garam dan meminta tamunya mengambil segelas air. Ditaburkanya garam itu kedalam gelas, lalu diaduknya perlahan.
“Coba minum ini dan katakan bagaimana rasanya,” ujar pak tua.
“Pahit. Pahit sekali,” jawab sang tamu sambil meludah ke samping.

Pak tua sedikti tersenyum. Lalu diajaknya sang tamu ke telaga hutan dekat tempat tinggalnya.Dan sampailah mereka di tepi telaga..

Pak tua kembali menabur segenggam garam dan dengan sepotong kayu diaduknya perlahan. suara riak air mengusik ketenangan telaga itu.
” Coba ambil air telaga ini dan minumlah!”
Saat sang tamu selesain minium, pak tua berkata lagi
” Bagaimana rasanya?”
“Segar” jawab tamunya
“Apa kamu merasakan garam di air itu?” tanya pak tua lagi
” tidak” jawab si anak muda

Pak tua menepuk bahu sang anak muda dan diajaknya duduk ditepi telaga.” Anak muda, dengarlah. Pahitnya kehidupan adalah layaknya segenggam garam, tak lebih tak kurang. Jumlah dan rasa pahit adalah sama. Tapi kepahitan yang kita rasakan sangat tergantung pada wadah yang kita miliki. Semua tergantung hati kita. Jadi saat kamu merasakan kepahitan, hanya satu yg bisa dilakukan yaitu lapangkan dada..Jadi jangan jadikan hatimu seperti gelas namun buatlah laksana telaga.

Makin besar pohon, makin besar anginnya. Makin besar anda, makin banyak masalah yang anda hadapi.
Persiapkan diri anda untuk perubahan yang segera anda hadapi.

sumber: kaskus

Komentar

1. Zian X-Fly - Maret 5, 2010

Betul itu. Cerita yang inspiratif.


Sorry comments are closed for this entry

%d blogger menyukai ini: