jump to navigation

Pelatih-Pelatih Tim Sepakbola Yang Aku Kagumi Februari 21, 2010

Posted by aditkus in Football and Futsal.
Tags:
trackback

Berikut sekelumit pelatih-pelatih yang sangat aku kagumi karena piawai dalam meracik tim yang mereka tangani. 3 orang pelatih primier League dan satu orang pelatih timnas.

Sir Alex Ferguson

Sir Alexander Chapman “Alex” Ferguson (lahir 31 Desember 1941 di Govan, Glasgow) adalah seorang pelatih dan mantan pemain sepak bola berkebangsaan Skotlandia, yang saat ini sedang menangani Manchester United F.C. di mana dia telah bertugas lebih dari 1000 pertandingan. Aku kira semua orang sudah tahu bila beliau ini dianggap sebagai salah satu pelatih terbaik dalam permainan, dia telah memenangkan lebih banyak trofi daripada pelatih manapun sepanjang sejarah sepak bola Inggris. Dia telah mengabdi kepada Manchester United selama 23 tahun, kedua terlama setelah Sir Matt Busby.

Ferguson sebelumnya menangani East Stirlingshire dan St. Mirren, sebelum meraih masa-masa kesuksesan bersama Aberdeen. Menjadi pelatih Skotlandia dalam waktu singkat – untuk mengisi posisi Jock Stein yang meninggal dunia – dia ditunjuk menjadi pelatih Manchester United pada November 1986.

Di Manchester United, Sir Alex menjadi pelatih tersukses dalam sejarah sepak bola Inggris, dengan memimpin tim memenangkan 10 gelar juara liga. Pada 1999, dia menjadi pelatih pertama yang membawa tim Inggris meraih trebel dari Liga Utama, Piala FA and Liga Champions UEFA. Juga menjadi satu-satunya pelatih yang memenangkan piala FA sebanyak 5 kali, dia juga menjadi satu-satunya pelatih yang berhasil memenangkan gelar liga sebanyak 3 kali berturut-turut bersama tim yang sama (1998-1999, 1999-2000 and 2000-2001). Pada 2008, dia bergabung bersama Brian Clough (Nottingham Forest) dan Bob Paisley (Liverpool) sebagai pelatih Britania yang memenangkan kejuaraan Eropa sebanyak lebih dari satu kali. Sosok ini yang tanpa ragu bisa dikatakan sebagai manager tersukses dalam persepakbolaan Britannia Raya ini telah menghadirkan puluhan trofi dalam 23 tahun kepengurusannya, mungkin cukup untuk mengisi 2-3 kabinet di ruang-ruang galeri Old Trafford.

“Roma Tidak Dibangun Dalam Sehari.”

Sejarah menunjukkan bahwa Sir Alex tidak meraih gelar apapun pada 3 tahun pertama. Posisinya sudah di ujung tanduk, desakan agar dirinya dipecat sudah bergema. Singkat kata, apabila sekuens tersebut terjadi pada dekade 2000an, dirinya sudah didepak dari kapan tahun. Akan tetapi, beruntung bagi Fergie, dan lebih lagi, beruntung bagi Manchester United,  Piala FA Musim 1989/1990 berhasil diboyong dengan mengalahkan Crystal Palace 1-0 melalui partai replai. Fergie pun bertahan, dan fajar era keemasan United mulai menyingsin. Silverware tersebut pada akhirnya hanyalah yang pertama dari banyak. Tahun 1990an menandai sebuah pergeseran besar dalam kiblat persepakbolaan di Inggris; dominasi Liverpool digantikan oleh dominasi Manchester United. Pembelian Ferguson yang paling berpengaruh disini jelas merupakan akuisisi Eric “The King” Cantona dari musuh bebuyutan Leeds United. Dan pembelian ini terbukti tepat. Di bawah kejeniusan Cantona, United berhasil merengkuh gelar Liga Premier (baru berubah nama) yang pertama. Piala demi piala menyusul ke belahan merah kota Manchester, tidak menyisakan spot kosong bagi debu untuk hinggap dalam lemari penghargaan di Old Trafford.

Memasuki tahun 1995 malah, Fergie membuat keputusan yang rasanya sulit dipercaya akal dalam era BPL masa kini. Pemain-pemain besar macam Paul Ince, Mark Hughes, dan Andrei Kanchelskis dilepas begitu saja. Penggantinya? Neville bersaudara, Nicky Butt, Paul Scholes, dan seorang David Beckham muda. Ketika Manchester United kalah 1-3 dalam pertandingan pembuka musim melawan Aston Villa, cibiran pun datang, dengan salah satu kutipan yang paling legendaris dari mulut mantan bek Liverpool Alan Hansen, “You can’t win anything with kids” ujar kolosus asal Skotlandia tersebut. Namun, pada akhir musim, terjawablah kenapa orang Skotlandia yang lebih tua menjadi pelatih tersukses di Britania Raya, dan kenapa orang Skotlandia yang lebih muda hanya menjadi pengamat di BBC: Bermodal Fergie’s Fledgelings dan kembalinya Raja Cantona dari skors, pada akhir musim United kembali berada di puncak setelah mengatasi perlawanan sengit Newcastle United. Perlu dicatat pula bahwa, andil Fergie tidak sekedar berpengaruh pada performa pemainnya di lapangan hijau, tetapi dalam mengacaukan psikologis pesaingnya. Sir Alex membuktikan kemahirannya dalam melakukan perang urat saraf, ketika arsitek Newcastle kala itu, Kevin Keegan emosinya meledak dalam sebuah wawancara dengan media.

Musim 1995/1996 tersebut bisa dilihat sebagai bukti konkrit nilai seorang Alex Ferguson bagi United, yang tidak sekedar bisa dinilai dengan nominal uang saja. Dengan dirinya sebagai manajer yang memegang setir kapal United secara penuh, performa pemain-pemain United prima, taktik dan strategi permainannya jitu, pemain yang dibeli tepat guna, dan pemain yang dijual, merupakan yang sudah tidak berguna. Belum lagi kepiawaiannya dalam berdiri di front terdepan untuk melawan oposisi dengan segala cara. Priceless.

United terus berprestasi hingga akhir dekade, dengan oposisi utama sang serigala tua yang satunya, yaitu Arsene Wenger dan pasukan gudang peluru-nya. Puncak pencapaiannya jelas gelar Treble pada tahun 1999, sebuah hallmark yang luar biasa; mengawinkan Piala Liga Premier, FA Cup, dan Piala Champions.

Periode tahun 2003-2006 sempat menunjukkan grafik menurun bagi Fergie & United, dan desakan untuk pensiun mulai muncul dari berbagai penjuru. Tetapi untungnya petinggi United tidak tertipu nada-nada mereka yang, maaf, tidak mengerti sepakbola. Tiada intervensi, hanya ada kepercayaan penuh kepada Sir Alex.

Kesabaran itu pun terbayar, ketika Fergie sukses kembali membangun tim yang berpusat pada bintang-bintang macam Cristiano Ronaldo dan Wayne Rooney. Dari 2007-2009, piala BPL selalu berujung di tangan United. Tambahkan kesuksesan Fergie di pentas Liga Champions dan Kejuaraan Klub Dunia pada tahun 2008, United sempat tanpa gugat menjadi tim terbaik di dunia.

Tidak ada yang bisa berdebat dengan Fergie di United, pemain-pemain yang membangkang pun dipaksa angkat kaki. Dan dirinya juga masih manusia yang bisa kesalahan (contoh: Djemba-Djemba, Kleberson).

Hanya saja tidak ada yang bisa mendebatkan pula fakta bahwa Fergie-lah sosok yang paling integral bagi kesuksesan United, dan dalam kekuasaannya, dibalik semua kesalahannya, pencapaiannya selalu berbicara lebih banyak.

*Pelatih asli Inggris belum ada yang bisa menyaingi Prestasi Opa Skotland “Ferggie” yang satu ini

Arsene Wenger

Monsieur Wenger, yang terkenal dengan julukan The Professor, lahir di Strasbourg, 22 Oktober 1949) adalah seorang pelatih berkewarganegaraan Perancis. Pelatih yang dijuluki sebagai The Professor ini kini melatih Arsenal sejak tanggal 30 September 1996. Dikenal akan kemampuannya dalam melihat potensi pemain muda berbakat yang kurang terkenal di kompetisi Eropa dan memolesnya menjadi pemain berbintang. Wenger  datang ke kepulauan Inggris pada tahun ke-10 kepelatihan Fergie  dan dengan cepat memposisikan dirinya sebagai rival utama Fergie dan skuad United. Prestasi Wenger jelas masih kalah dalam kuantitas apabila dibandingkan dengan Ferguson, tetapi nilai plus Wenger adalah keberhasilannya merevolusi total kultur sepakbola Arsenal serta kemampuannya mengendus talenta dengan harga yang demikian rendahnya di bursa transfer pemain.

Arsenal yang sebelumnya dikenal sebagai tim yang membosankan dan mengandalkan solidnya pertahanan berubah menjadi salah satu tim paling atraktif di Eropa. Pemain-pemain yang sempat tidak bersinar macam Denis Bergkamp dan Patrick Vieira dikombinasikan dengan bintang-bintang muda macam Nicolas Anelka dan wajah-wajah lama di belakang seperti Tony Adams dan Steve Bould. Hasil perdananya? Dominasi United ternoda ketika Arsenal merebut gelar liga domestik dan FA Cup pada musim 1997/1998, pesta gelar ganda di Highbury.

Peran Wenger dalam memutarbalikkan kultur sepakbola di Arsenal tidak hanya nampak di lapangan hijau. Karir kuartet lini belakangnya yang dikenal sebagai “The Famous Four” diperpanjang berkat diet ketat yang diperkenalkan Wenger kepada seluruh pemainnya. Wenger juga dikenal punya andil terhadap renovasi pusat latihan Arsenal, serta desain stadium Emirates yang menjadi markas baru Arsenal sejak 2006.

Wenger punya kebiasan ‘mengusir’ pemain apabila sudah terlalu tua (30 ke atas), atau menuntut terlalu banyak (Flamini, Hleb, Anelka). Dan sebuah hal yang biasa menjadi justifikasi keputusan Wenger dalam menyingkirkan pemain-pemain tertentu adalah kelanjutan karir mereka di klub baru mereka. Sambut Flamini yang asik menjadi benchwarmer di San Siro, dan Hleb yang bahkan sudah berpulang ke klub lamanya sebelum dibeli Arsenal, yaitu Stuttgart.

Dengan kebebasannya untuk mengontrol klubnya tidak sekedar di lapangan tersebut, Wenger kembali mencetak double-double pada musim 2001/2002, sebelum kemudian mencatat prestasi yang luar biasa dengan kembali meraih gelar domestik pada musim 2003/2004 tanpa sekalipun kalah!

They were called The Invincibles.

Paska masa keemasan tersebut, memang prestasi Arsenal melorot hingga musim ini. Tapi sekali lagi perlu diingat,”Roma Tidak Dibangun Dalam Sehari.”

Dikala semua tim besar asik menggelontorkan uang dalam satuan puluhan juta pounds tiap musimnya untuk membeli tim terbaik, Wenger mengendus talenta-talenta muda yang siap dibentuk menjadi world-beater tiap musimnya. Dari ketiadaan muncul nama-nama Cesc Fabregas, yang mungkin merupakan gelandang tengah terbaik dunia untuk saat ini, Gael Clichy, Robin Van Persie, Aaron Ramsey, dan kini harapan besar masa depan sepakbolan Inggris, Jack Wilshere. Terbukti dengan dikala tim-tim eropa diliputi kecemasan mengenai keuangan, Arsenal “adem ayem” ditambah lagi kepintaran wenger yang mampu tambal sulam keuangan sehingga Arsenal mampu membagun stadion Emirates.

Mungkin lemari piala di Emirates mulai berdebu, tapi semua tanda mengindikasikan bahwa di masa depan, skuad bintang muda yang telah diracik Arsene Wenger siap mendominasi persepakbolaan Eropa dengan permainan cepat nan indah mereka. Hanya di Arsenal-lah, sesorang seperti Arsene Wenger-lah yang bisa menantang logika perekonomian pasar jual-beli pemain dengan otonomi penuhnya.

Roberto Mancini

Roberto Mancini (lahir di Jesi, Ancona, Italia 30 November 1964) adalah seorang mantan pemain sepak bola asal Italia yang sejak Desember 2009 melatih klub Inggris, Man City. Roberto Mancini pernah bermain untuk klub S.S. Lazio, UC Sampdoria, dan Leicester City F.C.. Ia menjadi manajer Internazionale sejak tahun 2004 hingga dia dipecat pada 29 Mei 2008. Posisinya kemudian dialihkan pada mantan manajer Chelsea FC, Jose Mourinho.

Selama menjadi Pelatih Inter Milan, dia berhasil menjuarai Seri A Italia sebanyak tiga kali, yakni 2005/2006, 2006/2007, dan 2007/2008. Juara Coppa Italia dua kali, 2004/2005 dan 2005/2006, serta Piala Super Italia pada 2005 dan 2006. Pada 19 Desember 2009, Roberto Mancini mengakhiri masa menganggurnya saat klub English Premier League, Manchester City meminangnya sebagai manajer menggantikan Mark Hughes. Roberto mengawali karirnya di Manchester City dengan kemenangan gemilang 2-0 melawan Stoke City. Petrov dan Tevez adalah berhasil menjebol gawang lawan pada babak pertama. Selain itu Roberto membuat perubahan besar di barisan pertahanan sehingga terlihat pertahanan sangat kokoh dan membuat Tuncay frustasi. Bobroknya pertahanan adalah kelemahan besar Hughes selama berada di Manchester City.

Mancini mrupakan salah satu pemain berbakat pada generasinya, Mancini memulai debut di Italia Serie A untuk Bologna pada September 12, 1981. Tahun berikutnya dia dibeli Sampdoria, tempat dia singgah sampai tahun 1997. Kemudian ia bermain untuk Lazio (1997-2000) dan Leicester City (2001).
Dengan Sampdoria, ia berduet dengan Gianluca Vialli, dan membawa klubnya meraih scudetto pada tahun 1991, empat Coppa Italia (1985, 1988, 1989 dan 1994) dan Piala Winners’ Cup pada 1990. Dia juga muncul di akhir dari 1991-1992 di Piala Eropa melawan Barcelona. Dengan Lazio ia memenangkan scudetto nya kedua (2000) dan Piala Winners’ Cup (1999) serta dua Coppa Italia (1998 dan 2000). Mancini mempunyai karakter yang agak berbeda dibanding striker pada umumnya. Dia cenderung bertindak sebagai pengumpan, bukan sebagai algojo. Lebih banyak assist yang dihasilkan daripada gol. Kebiasaan ini disukai oleh setiap tandemnya, sehingga siapapun pasangan Mancini, dia akan melejit dalam daftar topskor klasemen.

Kebiasaan ini menyebabkan dia dijuluki sebagai ‘Pengasuh Striker’. Suatu julukan yang sangat pantas atas ketidakegoisan dia dalam permainan tim, dengan mendahulukan siapa saja yang lebih mempunyai peluang mencetak gol. Ini adalah satu hal yang sangat jarang dijiwai oleh seorang striker. Bisa jadi karena sifat itulah, karirnya sebagai pemain hampir selalu kalah top dibandingkan dengan striker pasangannya di tim.

Penghargaan Sebagai Pemain:
1. Sampdoria
– Serie A: 1990-91.
– Coppa Italia: 1984-85, 1987-88, 1988-89, 1993-94.
– Piala Winners: 1989-90.
2. Lazio
– Serie A: 1999-2000
– Coppa Italia: 1997-1998, 1999-2000.
– Piala Winners: 1998-1999.
– Piala Super Eropa: 1999.

Penghargaan Sebagai Pelatih:
1. Fiorentina
– Coppa Italia: 2000-2001.
2. Lazio
– Coppa Italia: 2003-2004
3. Inter Milan
– Seri A: 2005-06, 2006-07, 2007-08.
– Coppa Italia: 2004-05, 2005-06.

Guss Hidink

Guus Hiddink (lahir di Varsseveld, sekarang bagian dari Oude Ijsselstreek, Belanda, 8 November 1946; umur 63 tahun) adalah seorang mantan pelatih dan manajer Rusia dan juga mantan pelatih klub raksasa Inggris, Chelsea. Ia melatih PSV Eindhoven antara 2002-2006. Karir terbaiknya dalam melatih klub sepak bola yaitu di klub tersebut serta keberhasilannya membawa Korea Selatan menjadi juara ke-4 di Piala Dunia 2002. Kini Guss Hiddink melatih Timnas Turki, dia mempunyai kebiasaan melatih tim-tim yang dianggap sebagai “kuda hitam” dalam berbagai pertandingan dan bisa kita lihat bagaimana prestasi klub-klub yang pernah ditanganinya cukup bagus sehingga disini adalah  nilai tambah dari seorang Guss Hiddink.

Sebelumnya ia melatih PSV Eindhoven pada 1984-1990, timnas Belanda 1994-1998, Real Madrid 1998-1999, timnas sepak bola Korea Selatan pada 2000-2002 dan terakhir timnas sepak bola Australia pada 2005-2006 serta melatih Rusia usai melatih timnas Australia di 2006 FIFA World Cup. Australia sendiri ia loloskan ke Piala Dunia 2006 melalui kemenangan adu penalti atas Uruguay di babak play off yang mempertemukan juara Zona Oseania dengan peringkat lima Zona Amerika Selatan. Timnas Rusia pun berhasil dibawa olehnya lolos babak kualifikasi dan berhasil melaju hingga ke babak semifinal Piala Eropa 2008.

Pada 11 Februari 2009, dia ditunjuk menjadi pelatih baru Chelsea menggantikan Luiz Felipe Scolari yang dipecat pada 9 Februari 2009. Ekspektasi besar digantungkan Chelsea di pundak pria asal Belanda itu, merujuk pada kesuksesannya selama menangani sebuah tim.
Hanya saja, kontrak pelatih asal Belanda ini berlaku hingga akhir Premier League musim 2008/2009. Sebab, tanggung jawabnya sebagai pelatih Rusia enggan dilepaskan. Guus Hiddink menutup karirnya di Chelsea dengan manis usai merebut Piala FA Chelsea menekuk Everton 2-1 pada 30 Mei 2009.

Mari kita lihat beberapa catatan menarik seputar Guss Hiddink:

  1. Pria yang lahir di Varsseveld, Belanda pada 8 November 62 tahun silam itu memulai karirnya sebagai pemain di tahun 1967, bersama De Graafschap, yang merupakan klub terakhirnya sebelum gantung sepatu.
  2. Selama 15 tahun menekuni karir sebagai pemain, Hiddink hanya membela lima klub. Selain De Grafschaap, Empat klub lainnya adalah PSV Eindhoven, Washington Diplomats, San Jose Earthquakes dan NEC. Selama 15 tahun itu, Hiddink telah melakoni 470 laga dan mencetak 70 gol, dan dia tidak pernah dipanggil ke timnas Belanda.
  3. Seusai pensiun sebagai pemain di tahun 1982, Hiddink langsung diserahi tanggung jawab menjadi asisten manajer di De Graafschap. Baru di tahun 1987 ia dipercaya menangani klub secara penuh dengan PSV Eindhoven sebagai klub pertamanya.
  4. Di tahun 1987-1988, Hiddink sukses membaw PSV meraih treble, yaitu menjuarai Eredivisie, Piala KNVB dan Piala Champions. Kesuksesan domestiknya bersama PSV berlanjut hingga tahun 1990.
  5. Gagal membawa Fenerbahce dan Valencia menuai kesuksesan, Hiddink dipercaya menangani timnas Belanda di tahun 1995. Ia berhasil membawa Oranje ke babak semifinal Piala Dunia 1998 sebelum akhirnya mundur beberapa saat kemudian.
  6. La Liga Spanyol menjadi tujuan Hiddink berikutnya. Di sini, ia mendapat kesempatan menangani dua klub, yaitu Real Madrid dan Real Betis. Namun ia gagal menangani dua klub ini dan akhirnya dipecat.
  7. Hiddink kemudian dipercaya menangani tim nasional Korea Selatan. Di sini ia berhasil membawa Tim Negeri Ginseng itu tampil di semifinal Piala Dunia 2002 sebelum akhirnya tersingkir di semifinal oleh Jerman.
  8. Hiddink kembali ke PSV setelah kontraknya bersama Korea selatan berakhir di tahun 2002. Di klub asal Eindhoven itu, dia kembali memberikan prestasi yang membuatnya tercatat sebagai pelatih tersukses dalam sejarah klub. Total prestasi yang disumbangkannya untuk PSV antara lain enam gelar Eredivisie dan empat tropi Piala Belanda, mengungguli rekor Rinus Michels.
  9. 22 Juli 2005, pria yang memiliki banyak panggilan, seperti “Aussie Guus”, “Tsar Hiddink”, “Guus Geluk” atau “The Goose” itu mengambil tugas rangkap dengan menangani timnas Australia untuk membawa The Socceroos melangkah ke putaran final Piala Dunai 2006. Target itu dipenuhi dan Australia berhasil dibawanya hingga babak kedua setelah takluk oleh Italia.
  10. 14 April 2006, Hiddink resmi menangani timnas Rusia dan ia sukses membawa Andrey Arshavin cs ke semifinal Piala Eropa 2008. Hiddink juga menegaskan kesediaannya bertahan di kursi pelatih Rusia dengan menandatangani kontrak perpanjangan dua tahun hingga 2010. Kemarin Hiddink juga mengambil jabatan lain sebagai manajer Chelsea, menggantikan Luiz Felipe Scolari.

Fakta menarik lainnya mengenai Hiddink:

  1. Hiddink adalah orang asing pertama yang yang mendapat status kehormatan sebagai warga negara Korea selatan, yang merupakan hadiah dari pemerintah setempat karena kesuksesannya membawa timnas mereka tampil mengejutkan di Piala Dunia 2002.
  2. Hadiah lain dari pemerintah Korea Selatan untuk Hiddink adalah sebuah vila pribadi di pulau Jeju-Do, gratis terbang seumur hidup dari Korea Airlines dan Asiana Airlines, gratis ongkos taksi dan banyak lagi lainnya.
  3. Sebuah stadion di Gwangju, Korea Selatan juga diberi nama dirinya setelah Piala Dunia 2002 berakhir.
  4. Hiddink juga memiliki sebuah museum di kota kelahirannya, Varsseveld, dan diberi nama Guuseum. Musium ini merupakan salah satu tempat paling populer bagi warga Korea Selatan yang berkunjung ke Belanda.
  5. Hiddink pernah berurusan dengan hukum karena penggelapan pajak. Pada Februari 2007, Hiddink mendapat hukuman penangguhan penjara enam bulan dan denda €45,000.

www.goal.com

www.wikipedia.com

www.gudanggaram.com

Komentar»

1. muhammad zakariah - Februari 21, 2010

kek nya arsene wenger lebih bagus.. pelatih yg cerdas walau dgn pemain yg kurang bagus dan top. tapi bisa diolah menjadi pemain top dunia.😛

2. Tomy Meilando - Februari 27, 2010

yang paling atas tu, top abis

3. Persib1933 - Maret 6, 2010

Ferguson emang rajanya nyabet gelar tuh😀
tapi yg paling saya kagumi yaitu Marcelo Lippi…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: