jump to navigation

Road To Hajj-Japan: Part 1 Maret 4, 2010

Posted by aditkus in Contemplation.
Tags: ,
trackback

Seperti yang kita tahu Jepang merupakan salah satu negara maju dan modern saat ini. Negara ini mampu menyeleraskan antara teknologi dan budaya tradisional namun dibalik itu sebenarnya budaya yang ada mulai terdesak oleh budaya global. Di tengah-tengah budaya dan agama Shinto dan Budha yang sangat kental, Islam merupakan agama yang minoritas disini. Dari video Al-Jazeera, kita bisa lihat bagaimana kehidupan umat Islam dan bagaimana proses beberapa warga muslim jepang yang hendak menunaikan ibadah haji. Kalau saya tidak keliru, salah satu surat kabar nasional Indonesia pernah membahas tentang perjalanan haji muslim Jepang beberapa waktu yang lalu berdasarkan video ini saat musim haji. Video ini  saya dapatkan dari youtube dan sudah saya sertai penjelasan yang sudah diterjemahkan ke bahasa Indonesianya (semoga terjemahannya tepat dengan bahasa Inggris saya yang pas-pasan). Berikut kisahnya:

Jepang, negeri matahari terbit. Sebuah negara yang teknologi modern dan budaya tradisional berjalan berdampingan dimana kedua merupakan kontras satu sama lainnya. Jepang masih sangat memelihara komunitas budayanya dengan hirarki yang kuat, tapi sekarang banyak budaya tradisional dan tradisi-tradsi yang ada yang terdesak keberadaannya karena generasi mudanya dipengaruhi oleh budaya dan ide-ide dari luar jepang. Disini, yang mayoritas masyarakatnya adalah pemeluk agama Budha dan Shinto, Islam mengakar di beberapa kalangan masyarakat Jepang yang diantaranya akan melakukan perjalanan ibadah haji ke tanah suci Mekkah. Di Tokyo, Ibukota Jepang, azan dapat terdengar tiap harinya di beberapa penjuru kota. Ada sekitar 15 mesjid yang tersebar di Jepang dan 100 mushola atau sejenisnya, seperti di pinggir kota saitama yang dibangun lebih dari 15 tahun yang lalu oleh pekerja-pekerja muslim dari Bangladesh. Banyak dari para pekerja ini menjadikan Jepang sebagai tanah airnya dan akhirnya tinggal disini, dari beberapa jamaah yang sholat disini ada seorang etnik Jepang asli bernama Kubo-san. Kubo-san berumur 26 tahun dan rumahnya berjarak 2 jam dari Tokyo, dia merupakan anak satu-satunya di keluarganya dan masih tinggal dengan kedua orang tuanya. Kubo-san lahir dari keluarga Jepang pada umumnya, dan seperti kebanyak warga jepang lainnya tidak terlalu peduli masalah agama. Sedari kecil dia tidak pernah diajarkan betapa pentingnnya agama karena memang dikeluarganya tidak telalu tertarik dengan apapun yanng berhubungan dengan kegiatan keagamaan. Seperti kebanyakan keluarga jepang, Kubo san tumbuh dalam budaya shinto dan budha yang kental (heran, di awal video bilang ga terlalu tertarik agama tapi kok di penjelasan selanjutnya dikatakan sangat dipengaruhi oleh shinto dan budha). Shinto merupakan agama asli Jepang dan merupakan akar budaya dalam kehidupan masyarakatnya. Keyakian dalam Shinto merupakan perwujudan roh  alam, tidak ada simbol-simbol rahasia atau buku, tidak ada kelompok-kelompok jemaat, para pengikut kepercayaan Shinto menyembah angin, udara, batu, matahari, dll.

div>

Setelah Perang Dunia II, Shinto mengalami penurunan pamor karena Kaisar dipaksa menyatakan keterbatasaanya sebagai Dewa yang hidup (ga atau terjemahan yang pas) . Sebagian ajaran dan kegiatan Shinto yang sebelumnya dianggap penting pada masa perang ditinggalkan dan tidak lagi diajarkan. Sebagian lagi tetap bertahan, namun telah kehilangan konotasi keagamaannya. Orang jepang merupakan sangat menghargai privasi terutama yang menyangkut keagamaan. Abdullah Taki, salah satu muslim Jepang asli mengatakan bahwa “Agama merupakan salah satu subjek yang sensitif bagai masyarakat jepang. Seseorang akan menolak membicarakan agama yang tidak dikenalnya. Apabila ada seorang Jepang pindah ke suatu agama, maka akan sulit untuk diterima. Namun apabila orang asing yang menjelaskan agama baru ke pada orang jepang, maka orang itu akan tertarik dan ingin tahu tentang agama tersebut.”

Sebelum Kubo-san menjadi seorang muslim, dia beranggapan bila Islam dapat dipelajari melalui buku-buku teks semata. “Setelah aku menjadi seorang muslim, aku merasakan sesuatu yang mendalam yang hanya dapat dimengeti bila menjadi seorang muslim” Katanya. Lebih lanjut lagi dia mengatkan “ Di sini ada persahabatan dan hubungan yang hangat dimana hanya dapat dirasakan apabila orang-orang dengan keyakinan yang sama. Sekarang banyak saudara-saudar muslim, yang banyak menolong saya ”.

Salah satu yang menolong Kubo-san dalam memahami Islam adalah Reda Kenawi yang tahun ini akan membantu Kubo-san untuk menunaikan ibadah Haji. Sebelum Reda membantu menyelenggarakan haji, ada beberapa muslim Jepang yang sudah pernah pergi menunaikan ibadah Haji. “Staff saya mengatakan saya gila, karena hendak menyelenggarakan keberangkatan haji dari Jepang” seloroh Reda. “Dalam bisnis kita harus memperhatikan prosek permintaan pasar untuk menutupi biaya. Hal ini tidak akan berhasil apabila tidak ada muslim yang berangkat haji. Namun saya bersikeras harus ada yang memulai lalu yang lain dapat melanjutkannya dari sini”

Setelah Perang Dunia II, Shinto mengalami penurunan pamor karena Kaisar dipaksa menyatakan keterbatasaanya sebagai Dewa yang hidup (ga atau terjemahan yang pas) . Sebagian ajaran dan kegiatan Shinto yang sebelumnya dianggap penting pada masa perang ditinggalkan dan tidak lagi diajarkan. Sebagian lagi tetap bertahan, namun telah kehilangan konotasi keagamaannya. Orang jepang merupakan sangat menghargai privasi terutama yang menyangkut keagamaan. Abdullah Taki, salah satu muslim Jepang asli mengatakan bahwa “Agama merupakan salah satu subjek yang sensitif bagai masyarakat jepang. Seseorang akan menolak membicarakan agama yang tidak dikenalnya. Apabila ada seorang Jepang pindah ke suatu agama, maka akan sulit untuk diterima. Namun apabila orang asing yang menjelaskan agama baru ke pada orang jepang, maka orang itu akan tertarik dan ingin tahu tentang agama tersebut.”

Sebelum Kubo-san menjadi seorang muslim, dia beranggapan bila Islam dapat dipelajari melalui buku-buku teks semata. “Setelah aku menjadi seorang muslim, aku merasakan sesuatu yang mendalam yang hanya dapat dimengeti bila menjadi seorang muslim” Katanya. Lebih lanjut lagi dia mengatkan “ Di sini ada persahabatan dan hubungan yang hangat dimana hanya dapat dirasakan apabila orang-orang dengan keyakinan yang sama. Sekarang banyak saudara-saudar muslim, yang banyak menolong saya ”.

Salah satu yang menolong Kubo-san dalam memahami Islam adalah Reda Kenawi yang tahun ini akan membantu Kubo-san untuk menunaikan ibadah Haji. Sebelum Reda membantu menyelenggarakan haji, ada beberapa muslim Jepang yang sudah pernah pergi menunaikan ibadah Haji. “Staff saya mengatakan saya gila, karena hendak menyelenggarakan keberangkatan haji dari Jepang” seloroh Reda. “Dalam bisnis kita harus memperhatikan prosek permintaan pasar untuk menutupi biaya. Hal ini tidak akan berhasil apabila tidak ada muslim yang berangkat haji. Namun saya bersikeras harus ada yang memulai lalu yang lain dapat melanjutkannya dari sini”

Reda adalah orang Mesir, dia bekerja sebagai pengacara di Kairo sebelum bekerja sebagai agen travel di jepang. Dia memutuskan untuk membuat agen travel sendiri untuk melayani muslim Jepang yang hendak berangkat haji. Ini merupakan perjuangan yang berat sejak awal, hal ini menjadi lebih berat karena Otoritas Saudi Arabia menyatakan ketidakpercayaan terhadap Reda. “Kami belum pernah mendengar ada muslim Jepang dan ada yang berangkat haji juga” lalu dia berkata” Saya seorang Muslim Jepang dan warga negara Jepang” kenang Reda. “Kewarganegaraan  saya adalah Jepang dan saya mewakili Jepang dan berniat untuk membatu muslim disini menunaikan Haji”. Pihak otoritas Saudi tidak mempercayai Reda karena dia seorang Mesir (dari tampangnya aja udah keliatan).

Lalu mulai lah si Reda menjelaskan tentang Haji, dimulai dari jumrah lalu hingga  lama perjalanan yang akan ditempuh sekitar 16 jam di pesawat. Reda tetap pada pendirian awalnya untuk menyelenggarakan perjalanan Haji. Lima tahun lalu, perusahaan travelnya merupakan salah satu dari dua perusahaan yang terdaftar di otoritas Saudi untuk mengkoordinir Ibadah haji. Setiap tahunnya Reda berhasil meningkatkan jumlah keberangkatan muslim jepang ke tanah suci. Sasarannya utama dalah etnik asli Jepang.  Ini merupakan Bagian dari dakwah menyebarkan Islam kata Reda, jalan ini masih panjang tapi Reda optimis berhasil dalam misinya.

Reda mempunyai istri orang jepang dan sudah mempunyai anak dan besar di Jepang. Berat untuk dia membawa Istrinya ke Mesir. Apakah dia harus meninggalkan mereka? satu-satunya solusi adalah membawa dan memberikan  cahaya islam Di Jepang.

Islam mulai menunjukkan wujudnya di Jepang, seorang “Convert” (sebutan untuk yg berpindah agama)/ muallaf seperti Abdullah Taki. Memainkan perannya disini, di sebuah tempat distrik di tokyo menjadi yang dulunya sebuah apartemen namun diubah menjadi mushola. Abdulla Taki, 36 tahun, yang menjadi imam ditempat mushola tersebut. Saat muda, dia sangat senang mentato badannya, namu sekarang dia menemukan cara untuk mengekspresikan dirinya. Di tempat ini menjadi pengalaman baru bagi reda karena disini Imamnya merupakan seorang Jepang asli yang mampu membaca Al-Quran dengan baik. “Saya merasa kecil” kata Reda setelah diimami oleh Abdullah taki karena tidak menyangka ada Seorang Muslim Jepang seperti Abdullah Taki.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: