jump to navigation

Biduran Simelekete!!! Juni 18, 2010

Posted by aditkus in Daily Life.
trackback

Selama lima tahun tinggal di Surabaya sebagai mahasiswa baru kali aku pergi ke dokter, yang pernah dokternya nyaperin aku soalnya satu kos-kosan sama dokter khan lumayan minta resep gratis. Penyebab aku pergi ked dokter gara-gara biduran (penyakitnya ga elit) selama 2 minggu lebih, kalo malam trus pas lagi konsentrasi garap skripsi atau belajar buat sidang ditambah lagi makan telur dan ayam muncul deh bentol-bentol di sekujur tubuh. Biduran kata orang jawa atau masyarakat umumnya bilang bentol-bentol merah dan gatal disekujur tubuh yang biasanya disebabkan oleh alregi terhadap suatu makanan yang dimakan (kalo dilihatin doank ga bakal kenapa-kenapa). Aneh memang, sebelumnya juga pernah kayak gini juga waktu itu lagi nunggu data skripsi yang tidak kunjung aku dapatkan dan sempet stress namun setelah datanya dapat dan diolah berhenti bidurannya. Kemaren ceritanya lagi garap skripsi dan siap sidang skripsi dan kompre (benernya sih belum siap blass) h-seminggu lebih udah mulai getol belajar buat persiapan, pengumuman sudah dipasang kapan sidangnya. Lagi giat-giatnya persiapan diganggu sama penyakit ini, dalam pikiran sih paling bis sidang ntar reda sendiri. Singkat cerita sidang ku sukses dan lancar alhamdulillah dan mendapat nilai seperti yang aku harapkan, AB (lulus telat ga mungkin dapat A). Pas lagi presentasi skripsi ga direken sama dosen penguji, ya sudah aku percepat saja mungkin ga ada 15 menitan presentasi trus tanya jawab bandingkan 3 orang sebelumku yang hampir satu jam (mungkin karena urutan terkahir sidang dan judul skripsinya pasaran kali).

Hari pertama setelah sidang, ku pikir bidurannya bakal hilang ndilalah pancet ae. Memang agak berkurang cuman yaitu tetep aja muncul. Hari kedua malamnya setelah menyantap ayam penyet goreng, walah menggila bidurannya. Setelah tanya sana-sini, akhirnya aku putuskan ini harus dibawa ke dokter spesialis kulit. Berhubung aku ga tau dokter kulit yang mana yang bagus, jadinya aku milih ke rumah sakit Soetomo aja yang dekat dengan kos besok harinya. Jam tujuh aku berangkat ke Soetomo sampe sana jam 7.15, tanya sana-sini dan akhirnya aku disuruh ke lantai 4 yang memang tempatnya penyakit kulit. Sampe sana loket pendaftaran pasien kosong melompong ga ada petugas sama sekali, oh Indonesia oh Indonesia inilah para abdi negara (menurut info yg kudapat harunya buka jam 7 pagi). Jam setengah 8 loket baru dibuka dan harus nunggu setengah jam lagi buat ngurus administrasi baru bisa ke dokter kulitnya. Yang antri udah ada beberapa orang, baru sebentar pantat ini duduk setelah hampir satu jam berdiri langsung dipanggil dokter. Dokternya cewek umurnya mendekati 30 an (dengan asumsi, kuliah di FK (6 thn) + ambil spesialis (5 tahunan), disana juga aku melihat ada sekelompok cewek dan cowok memakai jas putih seperti dokter seumuran dengan ku dan bisa ditebak mereka adalah dokter muda. Lalu terjadi percakapan antar dokter dan pasien (kurang lebih seperti ini):

Dokter: Pak Aditiya! (haduh dipanggill bapak, padahal masih muda) aku langsung menuju dokternya sambil menenteng tas laptop.

Dokter: sakit apa pak?

Aku: ini mbak (kebiasan) saya biduran sudah dua minggu ga sembuh-sembuh

Dokter: bisa lihat bidurannya (aku tunjukin, waktu itu ada ditangan kiri)

Aku: begini dok (ganti sapaannya) saya ini sedang garap skripsi jadi kadang kalau lagi banyak pikiran + plus makan ayam atau telur timbul bidurannya.

Dokter: kalau pagi sering bersin-bersin?

Aku: (mikir bentar) sering dok

Dokter: ada gigi berlubang

Aku: ga ada dok (apa hubungannya pkirku)

Dokter: sepertinya mas nya alergi, kalau begitu ke bagian alergi saja (si dokter beranjak dari temapatnya trus aku ngekor dari belakang)

Pas nyampe di bagian alergi ga ada siapa-siapa cuman ada sekelompok  DM, trus salah satu dari mereka menyuruh menaruh kartu kesehatan dan kuitansi pembayaran yang sedari tadi aku pegang di meja dokter yang dimaksud. Aku akhirnya disuruh menunggu di luar ruangan. Lalu ada seorang bapak-bapak duduk di sebelah ku dan beliau juga mempunyai masalah yang sama namun lebih parah lagi. Kalau aku baru mingguan bapak ini udah setahun katanya (bujug busyet dah!!!) sambil nunjukin bekas biduran ke aku yang sudah berubah dan agak melepuh. Kita ngobrol sebentar dan dia kita punya kesamaan, jadi kalau lagi banyak pikiran penyakitnya kambuh dan parahnya lagi tu biduran udah sampe (maaf)di bawah  kelamin. Lalu namaku di panggil petugas.

Dokternya udahh ganti, udah paruh baya umurnya mungkin 40 tahunan. Tampangnya rada galak + killer + kumisan juga, sempet tanya ke dm dan keliatannya kurang puas dengan keterangannya mereka dokter yang nanganin aku di awal tadi dipanggil. Dari nada suaranya si dokter cewek rada takut gimana gitu kalau keterangan yang disampaikan kurang dan si dokter cewek tadi manggil mas ke dokter kumisan ini, dari sini aku bisa menarik kesimpulan kalau disini ada hirarki antara dokter senior dan junior. Terjadilah kembali percakapan antara pasien dan dokter:

Dokter kumisan: sakit apa? (tanya lagi padahal udah tau)

Aku: begini dok saya bla bla bla (sama seperti yang aku jelasin ke dokter cewek tadi)

Dokter kumisan: ehmmm, jadi berhubungan masalah emosi juga, biasa muncul dimana?

Aku: biasanya sih muncul di paha sama di tangan

Dokte kumisanr: nah mari kita periksa !!! (si dokter udah mau beranjak dari kursnya dengan semangat 45)

Inget banget muka  dokternya langsung sumringah begitu, aku langsung tunjukan yang ada ditangan aja. Sebenarnya di paha ada, di belahan (maaf) pantat juga ada.

Aku: ini dok yang ditangan masih ada yang dilaen tempat udah ga ada. Ini bekas atadi malam belum hilang juga (bidurannya masih merah merona).

Si dokter langsung melihat begitu juga 3 dm (2 cewek 1 cowok) kayak menemukan sesuatu obek buat pengamatan. Dalam hati simelekete juga nih ni orang, apa jadinya kalo ngomong dipantat juga ada bisa-bisa 2 dm cewek tadi bakal menjadikan aku objek obervasi dan penelitian yang dari tadi megang buku nyatet-nyatet sesuatu.

Dokter kumisan: pernah punya penyakit

Aku: ga ada dok (waktu itu lupa bilang kalo punya mag dan gampang diare)

Dokter: ah ga mungkin pasti punya, penyakit patah hati kali (guyonannya garing, dia sambil senyum-senum gitu begitu jug 3 dm nya seperti terpaksa mengakui kalo guyonan si dokter lucu)

Aku ya mau ga mau kudu senyum, buat menghormati pak dokter ini. at least tampangnya sudahh ga segalak awal tadi

Dokter: ini nanti kamu saya beri obat lalu ntar kita lihat apa masih muncul juga bidurannya. Kalo sekarang diperiksai ntar hasilnya ga valid. Minggu depan kembali kesini lagi buat kontrol

Aku: baik dok, terima kasih (sambil mengambil kertas resepnya)

Sehabis itu aku langsung ngelonyor pergi dan segera menuju ke apotik. Sembari menunggu obat aku teringat bapak yang tadi punya masalah sama dengan ku, pastinya bapak yang penyakitnya lebih parah dan sampe ke bagian vital itu jadi objek penelitian mereka (ga bisa bayangin, di obok-obok sama dm). walaupun demi ilmu pengetahuan tapi sepertinya aku masih belum rela jadi objek penelitian dokter-dokter itu. Malang nian nasibmu pak….

Komentar»

1. educrazy - Juni 18, 2010

wakakakak.. pengalaman yang mengenaskan.. kunjungi balik ok ke http://educrazy.wordpress.com

2. ibuketatag - Mei 14, 2011

trus, sembuh gak setelah itu. aku jg lagi biduran, lg nyari dokter. matur suwon

aditkus - Mei 29, 2011

kadang kambuhan, tergantung psikologis..kalo stress ya kambuh


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: