jump to navigation

Curcol Pulkam: Diantara Kesempatan Januari 17, 2011

Posted by aditkus in Daily Life.
Tags:
trackback

Setelah sekian beberapa bulan akhirnya aku pulang kampung. Maksudku pulang kampung kali ini hanya ingin melepas rindu sebelum menjalani tes pertengahan Januari, disamping itu aku sendiri ada tes disini. Untuk keputusan ku mengikuti tes di kampung halaman lebih karena desakan orang tua terutama mama yang ngotot menginginkan aku agar bekerja di kampung halaman saja, katanya agar ada yang menempati rumah di kota sebelah. Bagiku sih oke oke saja tidak masalah ikut tesnya, sekalian mengisi liburan juga.

Di tengah-tengah liburan aku ini, yang aku anggap bukan liburan namun lebih ke pendekatan ke orang tua. Why? Seperti yang sudah aku sebutin diatas tadi orang tua menghendaki agar aku bekerja di kampung halaman namun diriku menolak, lebih memilih berkarir di tanah jawa saja untuk sementara ini sekalian mencari pengalaman, ilmu dan wawasan. Alasanku yang lain pula berhubung aku sarjana akuntansi dan lahan kerjaku lebih banyak di pulau jawa yang memang aku sendiri mengincar institusi/perusahaan keuangan, berbeda dengan sarjana pertambangan dan beberapa lulusan lain yang memang lahan kerjanya di luar jawa. Pendekatan kali ini agar mereka memberikan izin tentunya, karena aku sudah pernah mengalami dikala orang tua tidak ridha dan ikhlas dengan apa yang kita perbuat maka pekerjaan itu menjadi sia-sia. Cukup sulit untuk mengambil hati ortu terutama mama, yang sepertinya tidak ridha. Aku ingin b namun mama maunya a, aku sendiri tetap bersikeras karena yang berhak menentukan kehidupan seorang anak ya anak itu sendiri orang tua hanya memberikan arahan dan bimbingan bukanya “menyetir” seperti sekarang ini. Sulit memang, tapi itulah tantangan yang harus aku hadapi. Teman-teman sendiri sebenarnya memberikan saran agar nurut dengan orang tua apalagi sebelumnya aku sendiri pernah menolak tawaran kerja di depan mata dan ini yang memperparah keadaan.

Alasan mama menyuruh untuk melamar di BUMD adalah karena aku sendiri merupakan sarjana di salah satu perguruan tinggi yang bisa dikatakan top di negeri ini, beliau berpikiran dengan modal seperti itu maka akan mudah bagiku untuk disini karena unggul dari lulusan univ.lokal. Bukannya ingin mendeskriditkan teman-teman dari perguruan lokal, tapi itulah kenyataannya. Ada perbedaan kualitas yang sangat jomplang antara output kualitas lulusan di perguruan di Indonesia. Di sela-sela liburan itu terjadi beberapa kali dialog yang membahas masa depanku antara aku dan mama. “Dit maunya apa sih?, Adit itu lulusan perguruan tinggi top kalau mendaftar di BUMD ini mama yakin diterima” kata mama. “Ya Adit tau ma, tapi Adit ini masih mengejar cita-cita yang belum kesampaian, Adit ini sarjana ekonomi/akuntansi sementara ini mau cari kerja di institusi keuangan dulu sekalin cari ilmu dan pengalaman yang banyak dan tempatnya bukan disini” sahutku.

”Nak ini ada kesempatan didepan mata, kemaren sudah melepaskan tawaran kerja. Yang ada aja diambil” balas mama masih karena belum terima dengan alasanku. Aku berpikir sejenak sambil menghela nafas panjang, ku katakan kepada mama “Ma Adit ini punya 3 kesempatan diinstitusi yang berbeda untuk mewujudkan keinginan ini, masak mama tega anaknya merelakan kesempatan ini”.

“Tapi sudah pasti belom? Kalo yang ini mama yakin Adit diterima” Ibu menjawab dan dengan percaya diri jika aku melamar di BUMD itu akan diterima kerja. “Kalo yang ini belum pasti juga soalnya ini masih lanjut tesnya, masih ga ngerti gimana kelanjutannya” balasku.”Nah kan masih belum pasti juga, ini ada kesempatan kerja. Tuh temen mama di kantor ada yang belum diangkat jadi pegawai tetap padahal sudah punya cucu” dijawab dengan nada sedikit emosi.

Papa yang dari tadi duduk di dekat kami pun hanya diam saja, beberapa hari sebelumnya baik itu ditelepan dan tatap muka keliatannya mendukung keputusanku namun entahlah kenapa kali ini ga melakukan pembelaan untukku. Hingga keberangkatanku kembali ke Surabaya masih belum ada kesepakatan antara aku dan mama, hanya saja sewaktu ibu akan berangkat ke kantor aku tegaskan kembali keinginanku dan mama hanya tetawa saja. Entahlah apa maksudnya….

 

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: