jump to navigation

Side Story Curcol Pulang Kampung Januari 20, 2011

Posted by aditkus in Daily Life.
Tags:
trackback

“W aku lagi dibanjarmasin.”.

“Keluar yuk mas sabtu atau minggu ini. ” balasnya.

“Aku lagi ada tes kerjaan disini, nanti aku kabari lagi.” ini sms ku yang terakhir sebelum aku ngajak ketemuan yang merupakan awal dari kisah ini.

………………….

Pulkam kali ini ada sedikit yang berbeda, aku “ngapelin” temen cewek. Inisial cewek ini w, temenku dulu sewaktu masih dikampus. Lebih tepatnya adik kelas, dia lulus dan dapat kerja duluan ketimbang aku. Dan sekarang dia sedang OJT disalah satu bank, dia dapat posisi sebagai Officer Development Program. Tempat kosnya cukup jauh dari rumah ku, boleh dibilang dari ujung ke ujung tapi kotaku hanyalah kota kecil jadi perjalanannya tidak terlalu jauh dibandingkan dengan Jakarta dan Surabaya.

Sehabis tes di Banjarbaru siangnya aku pulang kerumah dengan diantar papa naik mobil, terpaksa minta antar karena hujan mengguyur cukup lebat paginya.

“W aku udah selesei tes, kapan ketemuan” bunyi smsku ke W. Aku masih dimobil dalam perjalan pulang waktu itu. Lama juga smsku di balas rupanya.

“Agak sorean aja mas, aku lagi cuci mobil” jawab W diseberang sana.

“Btw alamatmu dimana, lalu kira-kira jam berapa selesainya?” balasku kembali.

“Simpang tangga”kali ini jawabannya lebih lama dan simple.

Bingung juga jadinya, alamatnya ga lengkap bagaimana mau cari kosnya akhirnya walaupun agak anoying aku sms dia lagi “Yang lengkap dunk.” ketikku.

“Ga ada nomornya, dekat tempat biliar. Masuk aja lalu kanan jalan rumahnya” balasnya lagi

Ya sudahlah nanti ketemu juga kataku dalam hati.

………

Waktu menunjukkan hampir pukul 4 waktu setempat, kuambil air wudhu untuk menunaikan kewajiban sahalat ashar terlebih dahulu.  Setelah selesai ngapel dengan yang Maha Kuasa saatnya meng”apel” sesama manusia lain jenis. Ku ambil hp putihku yang dalam setahun bisa 4 kali masuk service. Niat mau ganti hp tapi ga ada duit, sabar aja deh. Sambil rebahan  di kamar yang kini dipakai adikku, aku mainkan Tuts hp, tuts-tuts tadi mengeluarkan nada dasar yang ceria (aku seting begitu) seceria hatiku.

“W aku ke tempatmu.” dalam sekejab pesanpun terkirim.

Tak lama pesan balasanpun aku terima “Ok” begitu bunyi.

Karena dia sudah mengiyakan aku pun berangkat ke kosnya. Jarak rumah ku dan tempat kosnya seperti dari ujung ke ujung tapi ini kota kecil jadi tidak terlalu jauh perjalannanya

Aku sampai di jalan yang dia maksud karena masih bingung aku telepon dia “W aku udah nyampe di simpang tangga nih kosmu yang mana?” tanyaku.

“Emm, rumahnya ga ada nomornya Mas, masuk lalu liat aja ada warung kelontong disitu tempatnya.”

“Kalau begitu aku sudah di depan kosmu.” Sebenarnya belum persis di depan banget cuman rumahnya udah keliahatan di depan mata.

“Tunggu ya mas aku turun.” katanya

Selang beberapa lama dia membukakan pagar kosnya, dia muncul dengan baju lengan panjang berwarna pink dan celana panjang warna krem dengan rambut tergerai. Dengan senyum manis dia menyapaku dan mempersilahkan aku masuk. Ser ser ser…jantungku berdegup kencang menatap wajahnya. Manis sekali.

“Bagaimana kabarnya W, lama ga ketemu.” aku awali perbincangan kami. Kami duduk berseberangan kursi diteras rumah, dibatasi oleh meja kaca diantara kami berdua.

“Baik mas, tes apa tadi mas.” katanya sambil merapikan rambut pendeknya yang tergurai. Perbincangan ngalor ngidul kami pun berlanjut hingga magrib

Sambil berbincang-bincang otakku berpikir nanti si W mau aku ajak makan dimana, aku sendiri bingung soalnya sudah hampir 9 tahun aku ga dirumah jadi tidak begitu update tampat makan enak disini. Akhirnya aku putuskan kita akan makan lontong orari saja dan itupun aku harus menghubungi orang rumah dulu menanyakan tempatnya.

Azan magrib sudah berkumandang dan suaranya terdengar sampai kos namun kami masih lanjut berbincang lalu w memotong perbincangan

“Eh udah magrib belum sih  Mas, shalat dulu ya.”

“Udah.” sahutku sambil melirik jam tangan

“Shalat dikamar aja ya, aku beresin dulu berantakan soalnya.” Dia pun beranjak dari kursi menuju kamarnya yang ada dilantai dua.

Aku masih duduk  dikursi yang sama menunggu dia selesai shalat. Senang rasanya bisa berjumpa denganya kembali, tiba-tiba hp ku berdering khas ringtone samsung dan ternyata papa telepon dari rumah

“Halo assalamualaikum.”

“Walaikum salam, Nak alamat lontong orari di sungai Miai. Lurus saja dari jembatan pasar lama hingga ketemu perempatan tapi perempatanya agak aneh nanti belok kiri. Warungnya sebelah kanan jalan, ada tulisannya.” Ujar papa, menelpon balik karena tadi aku sms tanya alamat lontong orari yang aku maksud.

“Oke pah, makasih. Oh ya ini baterai hp udah lowbat jadi ga usah ditelepon lagi. Asalamualaikum.” Kututup hp, selang beberapa lama W turun kebawah memanggil untuk mempersilahan shalat di kamar.

Selama berada di kosnya aku mengamati suasana, enak dan sangat nyaman. Dari keadaan ini aku bisa prediksi sewa kosnya mahal apalagi ada ac plus dia juga bawa mobil disini. Yah yah dia..anak orang kaya dan berada sedangkan aku anak orang biasa. But Who cares?

Selesai kami berdua shalat, kami pergi makan. Aku memboncengnya  ke tempat makan dengan sepeda motorku. Aku sengaja pelan-pelan karena aku tahu cara ku mengendarai motor sangat buruk sekali tapi sok-sok ngebut. Aku jadi teringat waktu pertama kali aku membonceng dia, ketika itu kami berdua berangkat bareng ke tempat KKN dan kebetulan kami satu kelompok. Bila ada belokan aku memiringkan badan sedikit seperti gaya pembalap motor  dan hasilnya dia marah. Sambil jalanpun aku sedikit menjelaskan daerah yang kami lewati dan tanpa terasa kami sudah sampai.

……………………

Warung lontong orari merupakan rumah biasa di daerah sungai miai yang disulap menjadi warung dan warung ini mengingatkan rumahku yang dulu, full kayu ulin sampai dalemannya juga. Meja yang kami tempati bundar dan saat itu suasana tidak terlalu ramai namun bisa dikatakan meja yang ada terisi semua. Di sekiling kami banyak foto orang-orang terkenal yang pernah makan disana.

“Mas mau makan apa ?” Salah seorang pramusaji menghampiri tempat kami berdua.

“Yang ada apa?” tanyaku.

“Lontong lauk ikan haruan + telur, Lontong lauk ayam, dan sate.” Si pramusaji tadi siap dengan catatan dan pulpen untuk mencatan pesanan kami.

“W kamu udah pernah nyoba ikan haruan belum, coba aja.” Kualihkan pandangan ke W dan tawarkan menu baru kepadanya.

“Apa itu mas?, ga pa pa deh aku coba.” Dengan mimik muka bingung.

“Oke, trus minumnya apa? Teh es aja?”

“Ya mas, teh es aja sama denganmu”

Sembari makan kami lanjutkan  perbincangan, aku sempat cerita seputar keadaan teman-teman KKN yang  mau menikah.

“Fevi dan Rina mau nikah lho.”

“Ah yang bener mas.”

“Ya, kemaren aku sempat chating sama mereka berdua.”

“Pasti mas patah hati sama mbak Fevi ya?” W tersenyum usil sambil menyeruput teh.

“Ah ga kok, kata siapa? Hati ku hanya untukmu W.” aku terkekeh-kekeh pelan membalas pertanyaanya tadi.

“Ooo so swett mas.” Kami berduapun tertawa.

Sepertinya w tadi sempat mengirim pesan bbm ke temenku Isma di cikarang kalau kami kami berdua sekarang sedang jalan, tiba-tiba saja ada telepon masuk di Bbnya W. Isma satu angkatan ODP dengan W, Isma dan aku cukup dekat karena sewaktu SMA kami satu sekolah. W lalu memberikan BB nya karena Isma mau bicara denganku, hanya say hai saja tanya kabar.

Usai makan, aku pun mengajak dia jalan keliling kota sebentar dan akhirnya aku pulangkan dia ke kos karena malam semakin larut. Di tengah perjalanan pulang aku sempat bertanya kejadian saat kami pertama kali bertemu

“W ingat ga, pas kita pertama kali bertemu?” tanyaku dari balik helm

“Ingat, waktu itu mas ngira aku cowok. Jahat bener, setomboy itukah aku dulu?”

Dan aku pun hanya bisa tersenyum mendengar jawabannya, ternyata dia masih ingat padahal itu beberapa tahun yang lalu. Pada saat itu aku semester tiga dan dia semester 1, tahun pertama baru masuk. Aku sempet berpapasan dengan dia dijalan bersama Rina mbaknya yang juga temanku dijalan menuju kampus. Entah kenapa waktu itu w yang membonceng Mbaknya aku kira cowok, sesampai di parkiran aku sapa mereka berdua.  Aku kaget yang aku kira cowok ternyata seorang gadis berparas rupawan dan seyumnya kala itu masih membekas di hati. Wow..aku jatuh cinta pada pandangan pertama.

Pada akhirnya perjalanan malam itu kami akhiri didepan kos W Dia turun dari motor dan membuka helmnya.

“ Makasih mas udah diantar jalan-jalan dan makan.” Sambil membuka pintu gerbang

”W sini donk sebentar, ada yang mau aku omongin.” Cegahku sebelum dia masuk

“Ada apa mas?” tanyanya dengan heran.

“Gini W ada sesuatu yang sudah lama yang ingin aku ungkapkan kepadamu. Aku utarakan saja biar ga nganjel di hati lagi… Ehmm aku ga bermaksud nembak kamu.”  dengan mimik serius. “Aku udah lama memendam rasa terhadap kamu dan aku sejak lama aku naksir denganmu.”

“Mas serius nih.” Ujarnya, lalu menepuk tanganku yang masih memegang helm. Dia mengira aku hanya main-main.

“Serius W.”

“Serius?!?” dia balik tanya. Ku jawab dengan anggukan kepala

Kami berdua sempat terdiam sebentar lalu aku buka omongan.

“Maaf W aku bukan cowok yang gentle, aku udah lama naksir kamu cuman aku ga pernah mengungkapkan ke kamu dan baru sekarang aku berani ngomong.”

“Tapi kok ga ada gelagat kalo mas itu naksir ke Aku, ga ketahuan gitu ga kayak cowok-cowok yang lain.” Nada suaranya berubah menjadi rendah karena kaget mendegar apa yang barusan aku katakan.

“Ga kayak mas Irul yang sempet digojlokin sama aku, dan aku belum pernah dengan isu-isunya juga kalo mas naksir aku.”

Aku terdiam sebentar mendengar dia bicara seperti itu.

“Maaf W aku cowok sangat menyimpan perasaan jadi  sekalipun yang aku naksir seseorang aku anggap sebagai teman dan tidak lebih dari itu.”sahutku kembali, posisi waktu itu aku masih disepda motor dan dia berdiri disamping kanan.

“Mas aku belum bisa ngasih jawaban, karena bisa saja suatu saat keadaannya berubah. Aku takut mendahului kehendak tuhan.”

“Aku ga minta kamu jadi pacarku, aku hanya ingin mengungkapkan apa yang lama sudah terpendam dalam hatiku dari pada di nganjel,  ga masalah.”

“Kita sekarang teman aja dulu.” Dia mengulurkan tanganya untuk berjabat tangan dan aku pun menyambut tanganya.

“Ok, kita tetap teman. Maaf  kalau tadi ada salah kata.” Kataku.

Aku tersenyum mendengar jawabannya lalu menghela nafas panjang untuk mengumpulkan kekuatan mengutarakan isi hatiku selanjutnya “Jika nanti aku sudah kerja dan diriku sudah sedikit mapan dan siap kejenjang yang serius, gadis yang pertama kali yang aku cari adalah kamu.” Setelah kalimat ini meluncur dari bibirku  aku pun pamit dengan mengucapkan maaf lagi atas kejadian hari ini. Sepintas aku masih melihat senyumnya mengembang dibibir, aku berharap malam itu bukan malam terakhir aku mellihat senyumnya.

………..

Back to home

Sudah seperti yang aku duga.  Aku memang tidak berharap dia akan menerima cintaku malam itu, tidak ada ekspektasi apa-apa hanya ingin mengucapkan Cinta yang sudah lama terpendam di hati entah terbalaskan atau tidak Allahualam. Selama beberapa hari aku tidak ada menghubungi dia, ketika aku akan kembali ke Surabaya aku baru sms W kembali.

“Kalo ada apa-apa atau ada hal yang ingin ditanyakan tanya aja, ga usah sungkan.”

“Okee.Makasiee Mas.” balasnya

Dan inilah smsku terakhir dengannya.

 

pict: https://aditkus.files.wordpress.com/2011/01/i_love_you_by_xxbeastofbloodxx.jpg?w=300

Komentar»

1. Den Bagus - Februari 2, 2011

Waaahh sepertinya ane tau si cewek berinisial W ini gan!!!!!! Kkkwkkwkkwkkwkkwkkkw….. Curi….. Curi Curi.. Curi….. =)

2. aditkus - Februari 2, 2011

opo sih fed…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: