jump to navigation

Green Finance = Untung ? Februari 12, 2011

Posted by aditkus in Save our Environment.
Tags:
trackback

Sudah lama aku ga bikin post tentang lingkungan hidup, kali ini temanya adalah Green Finance. Konsep dari cara ini adalah pengucuran modal dengan prinsip ramah lingkungan. Masih bingung? Sebenarnnya contohnya gampang kok. Bagi yang udah pernah ke Jakarta pastinya tau Bajaj kan? Nah bajaj yang berseliweran di Ibukota ada dua jenis yaitu bajaj yang masih konvensional (pake bensin) dan yang udah berbahan gas. Trus hubungannya apa dengan finance atau istilah Indonesianya keuangan, secara gampang bagaimana kita menghasilkan uang tanpa merusak lingkungan (meminimalisir kerusakan). Si tukang bajaj dapat penghasilan dari jasanya dan tentunya lingkungan sekitar ga kena polusi asap knalpot bajaj, nah gampangkan.

Coba bandingkan dengan bila ada sekelompok orang yang menebang hutan yang jelas-jelas merupakan bagian dari hutan lindung. Akibatnya musibah menerpa daerah yang hutannya gundul. Dalam masalah ini masyarakat juga tidak bisa disalahkan, mereka juga butuh makan dan karena hal ini pula mereka dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab. Si penebang ini mungkin akan merasakan keuntungan dalam jangka pendek denngan menerima upah namun lihat saja dalam jangka panjang daerah yang digunduli ini akan mengalami kerusakan jangka panjang baik itu untuk penebang (semisal yang nebang juga warga sekitar). Ga usah jauh-jauh deh, di tempat kelahiran aku di kalimantan hal ini udah kejadian. Yang jadi penebang ya warga sekitar yang jadi juragan orang luar dan akibatnya hutan gundul dan banjir dan warga juga akhirnya yang rugi.

Konsep green finance ini mulai muncul di Indonesia sejak kerusakan lingkungan di tanah air merebak bagai cendawan di musim hujan. Seperti yang kita tahu negara kita tercinta ini tidak pernah sepi dari musibah alam, seakan-akan alam marah akan kelakukan manusia Indonesia. Mulai dari bank sampah, BBM dari minyak jelantah, hingga konsep keranjang takakura dst sudah pernah diperkenal di Indonesia namun sepertinya hal itu masih belum cukup. Hal ini terjadi karena edukasi kepada masyarakat masih kurang, setiap ada program yang go green seakan-akan hanyalah “anget-anget tai ayam”.

Disinilah harusnya peran pemerintah lebih besar, namun sayang sekarang Indonesia berada pada orde demokrasi kebablasan sehingga yang diurus hanya seputar politik dan pemakzulan pemimpin negeri ini. Penulis mau mengambil contoh di Jepang yang serius untuk menangani perubahan Iklim dunia. Di Jepang sana sejumlah nelayan di Jepang beberapa tahun lalu memutuskan untuk menggunakan teknologi LED (light emitting diode) akibat mahalnya harga bahan bakar yang biasa dipakai untuk melaut. Pada awalnya memang dibutuhkan biaya yang besar untuk membeli dan melengkapi kapal penangkap ikan dengan LED, tetapi setelah digunakan mereka dapat menghemat biaya operasional. Mereka (para nelayan) meminjam uang dari bank.Untuk itu pembiayaan dan dorongan untuk menggunakan teknologi ramah lingkungan merupakan kunci yang dibutuhkan dalam penerapan green finance.

Metode ini bukan berarti ga banyak halangan, mari ambil contoh lagi moda transportasi di Ibukota. Problem dari bajaj dan angkutan yang berbahan bakar gas Cuma satu masalahnya yaitu SPBU,  padahal jarak jelajah angkutan umumkan lumayan jauh dan tidak mungkin supir bajaj ini bawa tabung gas elpiji kemana-mana. Hal serupa juga terjadi dengan Bus transjakarta yang make BBG. Yah beginilah kalo pemerintah berpikir ga sampai jauh. Seharusnya SPBU bisa mengimbangi moda transportasi yang ada, terkadang kalau masalah investasi untuk kepentingan masyarakat Pemerintah agak pelit ya mungkin ini lahan proyek yang susah di korupsi sama pejabat. Bandingkan saja dengan proyek-proyek prestius yang hanya menguntungkan segelintir pihak (ngakunya sih buat kepentingan umum)…wah cepet deh selesainya.

Sebenarnya Indonesia punya peluang bisnis untuk bahan bakar yang ramah lingkungan, coba saja tengok potensi alam kita yang terbarukan. Seandainya SDM Indonesia cukup aku yakin masalah bahan bakar bisa diatasi dan tentunya bisa memberikan keuntungan bagi stakeholders (siapapun juga, baik langsung maupun tidak langsung). Inti dari kebijkan ini adalah untuk menerapkan konsep green finance secara nyata dibutuhkan tekad dari badan finansial, baik swasta maupun pemerintah, untuk mengeluarkan investasi dalam jumlah yang besar. Selain itu, penerapan green finance membutuhkan kemajuan teknologi yang dapat mengurangi dampak perubahan iklim.

Sumber :

http://sains.kompas.com/read/2011/01/28/1353109/.Green.Finance.Solusi.Perubahan.Iklim

 

 

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: