jump to navigation

Nasihat Penjual Tahu Tek Juni 9, 2011

Posted by aditkus in Daily Life.
Tags:
trackback

Aku turun dari motor sambil menyeka keringat yang membasahi jidat, kubuka pintu pagar lalu kumasukan motor ku ke garasi. Sepertinya malam ini penghuni kos lengkap semua, terlihat dari garasi kos yang terisi penuh. Kalau sudah begini jadi bingung mau naruh motor dimana, jadinya harus megeser-geser motor lain biar motorku bisa masuk. Kulihat jam ditangan waktu udah nunjukkin jam 23.00 dan aku belum makan sedari siang tadi, perut ini keroncongan ga karuan. Jam segini pikirku sudah ga ada orang yang jual makanan kalaupun ada pastinya sudah habis.

Dari kejauhan aku dengar suara tek tek tek, khas penjual tahu tek. Aku pun memanggil sang penjual, paling tidak ada yang bisa ku makan pikirku. Seorang pak tua datang ke arahku dengan rombong tahu teknya, rombongnya putih lengkap dengan peralatan masak khas penjual tahu tek.

“Pesan satu pak” kataku pada si penjual

“Bungkus atau pakai piring” Balasnya.

“Pake piring saya aja pak, sebentar saya ambilkan dulu” Aku pun bergegeas masuk kedalam dan si bapak sibuk menyiapkan bahan yang diperlukan untuk pesananku.

Beberapa saat kemudian aku sudah keluar membawa piring “ini pak piringnya, jangan lupa pakai lontong”

“Iya mas”

Aku perhatikan si bapak meracik bahan yang ada dengan cekatan, sesekali dia memukulkan sendoknya ke panci lalu terdengarlah suara tek tek.Terdengar suara gemericik minyak panas asap pun mulai mengepul dari penggorengannya, diputarnya klep pengatur api kompor yang ia gunakan agar api tidak terlalu besar.

“Masnya ngekos disini?” tanya si penjual padaku

“iya pak, ada apa?” balasku

“Ah enggak, cuman jarang sekali melihat mas disini. Biasanya anak kos disini suka beli dagangan bapak”

“Saya jarang makan malam-malam, kalo makan habis magrib biasanya di warung ibu Hesti” sambil menunjuk ke warungnya bu hesti di ujung jalan.

Aku ga terlalu suka makan tahu tek makanya jarang beli, lidahku ga cocok beda sama teman-temanku yang memang lidahnya lidah jawa tulen. Biarpun aku masih ada jawanya tapi sudah lama besar di Kalimantan jadi lidahnya beda. Berhubung lapar apa boleh buat yang ada aja aku makan.

“Kerja atau kuliah” tanyanya kembali padaku

“Saya kuliahnya sudah selesai sekarang lagi ada proyekan dosen, masih nyari kerja yang lebih mapan juga sebenarnya”

“O begitu ya mas, saya punya dua orang anak, Alhamdulillah dua-duanya kuliah beasiswa” kata si penjual tahu tek “Untung dapat beasiswa, coba kalau ga uang dari mana, saya ini cuman seorang penjual tahu tek, penghasilan saya ga akan cukup buat membiayai kuliah mereka. Wong buat makan aja sudah pas-pasan apalagi untuk kuliah yang butuh uang banyak” sambungnya.

Aku tidak kaget mendengar penuturan beliau, karena banyak kok orang yang mampu meneruskan sekolahnya hingga kuliah berbekal beasiswa saja dan itupun banyak di kampus. Perjuanagn untuk memperoleh beasiswa pastilah tidak mudah hanya orang-orang yang pandai dan kalaupun tidak pandai paling tidak mau berusaha keras untuk belajar biasanya mendapatkan beasiswa. Apa sih yang tidak mungkin di dunia ini selama orang mau berusaha pasti ada jalan. Lalu aku mencoba bertanya kembali pada si bapak.

“Anaknya kuliah dimana, apa sudah kerja sekarang sekarang” tanyaku

“Anak saya yang kedua kuliah di kedokteran UI sedang ambil spesialis dan yang satu lagi yang paling tua sedang mengambil sekolah di di Australia. Saya ga tau sekolah apalagi disana, dia bilangnya mau ambil gelar S3” jawab si bapak sambil mengulek sambal petis.

Kali ini aku benar-benar kaget, dua orang anak beliau ini pasti pintar sekali hingga bisa sekolah setinggi itu. Aku sendiri saja merasa pas-pasan dengan kemampuan otakku ini, di kampus pun aku bukan mahasiswa yang mempunyai prestasi akademik yang menonjol dengan indeks prestasi kelulusan saja mepet 3.

“Mungkin mas berpikir kalau kedua anak saya itu anak yang pintar, betul ga?” Si bapak balik tanya kepadaku.

“Kalau dari penuturan bapak mungkin bisa disimpulkan seperti itu” jawabku enteng.

“Sebenarnya mereka bukan anak yang pandai bahkan si bungsu pernah tinggal kelas, mereka bisa seperti itu karena bekerja keras dan keadaan itulah yang membuat mereka seperti itu” Lalu si bapak melanjutkan ceritanya lagi. ”Kami dulu keluarga yang serba berkecukupan mungkin bisa dibilang berlebih, dengan keadaan seperti ini saya terlalu memanjakan kedua anak saya. Hampir semua apa yang mereka minta saya turuti hingga puncaknya keduanya menjadi malas untuk sekolah. Kedua anak saya ugal-ugalan kalau sekolah hingga nilai-nilai mereka tidak ada sedap dipandang ha2x..” Kata si bapak sambil tertawa.

“Bapak pun sering dipanggil oleh pihak sekolah karena ulah mereka berdua” lanjutnya lagi

“Lantas apa yang terjadi dengan keluarga bapak hingga bapak kini berjualan tahu tek keliling?” tanyaku dengan nada penuh keheranan.

“Saya dulu pekerja kantoran dengan gaji yang lumayan, sangat besar waktu zaman dulu. Namun pada suatu waktu saya terkena musibah , saya difitnah oleh teman kantor yang menyebabkan saya dipenjara”

“Dari sini awal kehidupan saya berbalik 180 derajat, dulu yang hidup berkecukupan hingga berlebih namun setelah itu saya dipejara dan dikeluarkan dari instansi saya bekerja. Cukup lama saya dipenjara, hingga saya tidak bisa menafkafi keluarga saya. Kehidupan istri menjadi morat marit begitu juga kedua anak saya” tambahnya lagi.

Aku yang dari tadi berjongkok dekat pagar kos, cuman bisa diam mendengarkan cerita si bapak. Tercengang aku mendegar kisah hidup si bapak ini, dari seorang pegawai kantoran berkecukupan hingga menjadi seorang penjual tahu tek keliling.

“Lalu apa yang terjadi dengan kedua anak dan istri bapak?”

“Istri saya meninggal dunia, setahun setelah saya dipenjara dan anak-anak saya hidupnya pun luntang lantang tidak karuan.”

“Maaf saya tidak tahu kalau istri bapak sudah meninggal, lalu bagaimana ceritanya kedua anak bapak bisa membiayai hidup dan kuliah?”

“Oh ga apa apa mas, ini tahu teknya sudah jadi.” Sembari menyodorkan tahu tek yang sudah jadi kepadaku dan aku pun membayarnya.

Tahu tek sudah selesai dibuat tapi aku sendiri masih penasaran dengan cerita si bapak ini. Aku pun berdiri dan mengambil piring dari tangan si bapak, lalu terlintas dalam pikiranku bagaimana kalau aku minta dilanjutkan ceritanya tadi sambil aku makan. Tanpa piker panjang aku pun meminta kepada beliau agar beliau mau melanjutkan cerita dan aku akan mendengarkan sambil makan.

“Maaf pak, cerita bapak tadi sungguh menarik untuk saya, apakah bapak berkenan melanjutkan cerita tadi. Kalau boleh saya mendengarkan kelanjutannya sambil makan disini” pintaku kepada si bapak

“Boleh tentu saja, kenapa tidak” jawabnya

Tidak lama berselang ada dua orang pelanggan memesan tahu tek. Pesanannya nanti akan mereka ambil 10 menitan lagi. Aku pun sebentar masuk ke dalam kos untuk mengambil sendok, setelah itu aku mencari posisi yang enak untuk mendengarkan cerita sambil makan.

“Sambil saya melayani pesanan pelanggan sampai mana tadi ceritanya, lupa saya” kata pak penjual tahu tek sambil menyiapkan bahan.

“Sampai istri bapak, tadi juga belum diceritakan bagaimana kelanjutan nasib anak bapak.” Sahutku

“Ya ya, baiklah. Seperti yang sudah saya ceritakan tadi setelah istri meninggal kedua anak saya hidup luntang lantang tapi syukurnya masih ada keluarga yang merawat. Karena adanya musibah ini mengubah perilaku mereka, mereka menjadi sadar tidak bisa selalu mengandalkan orang tua. Anak saya yang pertama yang tadinya bandel, pas disekolah saja sering terlibat perkelahian hingga lulus SMA pun masih sering berbuat onar hingga ketergantungan narkoba akkhirnya mau insaf dan berubah.”

“Pernah juga ia sampai ditahan polisi karena terlibat perkelahian, dan dia terpaksa mendekam di penjara beberapa bulan menyamai seperti bapaknya. Kala itu istri saya masih hidup, dia waktu itu bekerja di salah satu perusahaan swasta. Uang kami yang tersisa pun habis hanya untuk merehabilitasi anak saya yang kertegantungan tadi. Dia pun jatuh sakit karena stress, memikirkan keadaan saya dan anaknya. Tak lama berselang akhirnya meninggal tepat satu tahun setelah saya masuk penjara.”

“Ini menjadi tamparan buat kedua anak saya, karena selama ini yang merawat mereka adalah istri saya tercinta. Namun setelah meninggal mau tidak mau kedua anak saya harus berusaha sendiri untuk bertahan hidup. Sewaktu pemakamaman istri , saya diperbolehkan keluar penjara. Saya sempat berbincang-bincang dengan mereka berdua. Ada keinginan istri yang dulu sekali pernah disampaikan kepada saya. Istri saya berpesan agar kelak kedua anaknya bisa sekolah hingga perguruan tinggi bisa melebihi kedua orang tuanya yang hanya lulusan smp dan sma ini.”

“Lalu bagaimana tanggapan kedua anak bapak, setelah mendengar permintaan istri yang terakhir” tanyaku menanggapi cerita si bapak.

“Pada awalnya mereka menolak, terutama yang pertama karena sudah lama dia tidak menyentuh buku pelajaran dan sepertinya sulit bila ingin menembus perguruan tinggi untuk mengikuti ujian masuknya.” Sambung si bapak.

“Bagaimana ceritanya akhirnya mereka mau melanjutkan sekolah kembali bila niat saja tidak ada” aku pun kemballi bertanya sambil melahap tahu tek.

“Ini dia masalah terbesar, yang paling tua sudah dua tahun lulus SMA kala itu berarti tinggal satu kali lagi kesempatan untuk mengikuti ujian masuk perguruan tinggi dan adiknya baru saja lulus. Si adik mungkin masih mending masih ada dua kali kesempatan, namun ya begitulah si anak ini tidak begitu pintar di sekolah langganan dapat nilai jelek karena sikap malasnya. Saya mencoba meyakinkan mereka berdua, bahwa ini adalah permintaan terakhir ibu mereka dan yang bisa merubah nasib keluarga ini hanyalah mereka. Sudah tidak mungkin bila mengandalkan bapaknya lagi yang sudah dicap sebagai narapidana ini.” Si bapakpun mengambil nafas panjang. Seperti ingin melepaskan beban berat yang selama ini ia pikul. Lalu dia melanjutkan ceritanya kembali

“Mungkin karena cintanya mereka kepada sang ibu, akhirnya mereka pun mau mau menuruti wasiat terakhir istri saya. Sang kakak mencoba menghubungi teman-teman dia kala SMA yang sudah kuliah, dia meminta bantuan agar bisa dibantu belajar menghadapi ujian nanti begitu juga adiknya. Pada awalnya teman-temannya banyak yang tidak percaya pada perubahan sikap mereka berdua, namun lambat laun dorongan untuk belajar banyak datang dari teman-temannya dan syukurnya kami tidak perlu mengeluarkan biaya ekstra untuk persiapan ini.”

“Mereka pun belajar bukan tanpa halangan, kedua anak saya juga harus bekerja bila tidak darimana mereka bisa makan. Pagi kerja di tempat orang secara serabutan, malamnya belajar kalau sudah begini kondisi fisk jadi hambatan. Teman-temannya datang silih berganti membantu. Dan akhirnya tibalah waktunya ujian masuk itu, mereka sendiri sebenarnya bingung mau mengambil jurusan apa. Yang ada dipikiran mereka cuma satu yaitu nekat, si adik mengambil pilihan pertama jurusan kedokteran dengan pilihan kedua hukum dan sang kakak mengambil Farmasi dengan pilihan kedua Fisip.” Sambil bercerita sesekali dia membetulkan letak clemek yang menempel di badannya. “Saya pun berpesan kepada mereka tat kala mereka mengunjugi saya di penajara, jangan hanya berusaha saja namun tapi ingatlah untuk berdoa. Dan pada akhrinya keinginan istri saya terkabul. Mereka diterima di perguruan tinggi. Selama dua semester mereka pontang panting untuk membiayai kuliah namun Alhamdulillah akhirnya mereka mendapatkan beasiswa dari kampus hingga lulus kuliah.”

“Wah beruntung sekali kalau begitu, rezeki mereka tuh. Manalagi jurusan yang dipilihan sulit untuk ditembus.” Cletukku

“Alhamdulillah Mas, namun yang namanya rezeki tidak serta merta datang kalau tidak dicari. Allah sudah menakarkan rezekinya kepada setiap makhluknya namun dengan syarat mau berusaha meraihnya jadi tidak ada namanya kebetulan. Selama manusia mau berusaha maka nasib itu bisa dirubah dengan seizin-Nya.”

Tidak terasa tahu tek sudah habis dan waktu sudah menunjukkan jam 12 lebih, aku pun sudah mulai mengantuk. Tak sengaja aku pun menguap, melihat itu sang bapak pun berhenti bercerita.

“Wah Masnya sudah mengatuk sekali kelihatannya, ceritanya disambung kapan-kapan lagi saja kalau begitu.”

“Jangan begitu donk pak, bapak belum cerita kelanjutan nasib bapak. Bagaimana bapak bisa berjualan tahu tek. Bikin penasaran saya nih” jawabku.

“Ha ha kalau cerita tentang diri saya ga ada yang menarik Mas. Yang jelas dalam hidup ini, usaha keras itu harus namun dibarengi dengan doa. Selama ada usaha disitu ada jalan.” Dua orang yang pesan tadi pun datang menghampiri kami. Si bapak pun sibuk membungkus tahu tek tersebut. Sambil kerja si penjual tahu tek memberikan nasihat kepadaku “ Dalam hidup ini semua tidak terlepas dari campur tangan Yang Maha Kuasa dan semua yang kita alami termasuk masuk penjara seperti saya ini ada hikmahnya. Kadang apa yang kita inginkan belum sejalan denngan Mau-Nya, ini membuat orang stress dan berputus asa. Sekarang bagaimana kita saja yang mampu apa tidak memahami rahasia dibalik tiap kejadian yang ada, jadikan itu sebuah introspeksi diri dan jangan lupa banyak bersykur atas rahmat dan nikmat-Nya” sembari menyerahkan pesanan pelanggan.

Aku pun berusaha menangkap apa yang dimaksud oleh si bapak penjual tahu tek. Aku sendiri tersadar dengan diriku selama ini, apakah aku sudah bisa mengambil hikmah dalam hidupku. Mungkin tidak, aku sendiri lebih banyak mengeluh padahal masih banyak orang yang tidak lebih beruntung dari aku. Sejenak aku pun terdiam sambil melihat langit malam yang kelam. Si bapak pun sudah bersiap-bersiap untuk pulang.

“Mas saya pulang dulu, daganggan saya sudah habis. Mungkin lain waktu kita bisa ngobrol” ujarnya sambil mendorong rombongnya.

“Oh iya pak, makasih cerita plus nasehatnya juga. Saya tunggu kelanjutan ceritanya.”

Aku pun menutup pagar kos, lalu naik ke lantai dua dimana kamarku berada. Sebelum tidur aku tidak lupa sebuah ritual yaitu gosok gigi, apalagi ini habis makan, bisa-bisa sakit gigi ntar kalo lupa. Setelah urusan di kamar mandi selesai akupun merebahkan diri di kasur, tapi mata ini belum mau juga mengantuk. Cerita dan nasihat tadi masih terngiang-ngiang dipikiranku, ku coba flash back apa yang sudah aku lakukan setahun ini terutama sehabis lulus. Aku sendiri belum mendapatkan apa yang aku ciita-citakan, keinginanku belum tercapai. Apakah semua usaha sudah aku lakukan bagaimana dengan doaku. Apakah yang aku lakukan sudah sesuai dengan yang dikehendaki oleh-Nya?

Pikiranku melayang lagi ke sosok penjual tahu tek, untuk orang yang pekerjaannya seperti itu ternyata cukup bijak. Jarang aku temui orang seperti itu, kebanyakan pedagang kaki lima seperti beliau lebih mementingkan urusan perut. Mungkin karena pengalaman hidupnya seperti itulah yang membuat bapak tadi bisa sangat bijak dan aku yakin bukan waktu yang pendek agar mencapai tahap seperti itu. Tidak jarang umur belum menjamin kedewasaan seseorang.

Komentar»

1. adiakmal - Juli 13, 2011

Subhanallah…nasehat dan kisah yang luarr biasa….

trims

2. wannya - September 25, 2011

mantap ceritanya, itu fiksi atau beneran?


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: