jump to navigation

Dengan Customer Driven, Perbankan Indonesia Bisa 100% Syariah. Agustus 1, 2011

Posted by aditkus in Daily Life.
Tags: ,
trackback

Baru-baru ini aku mendapat pelajaran tentang customer driven dikelas, yang jelas ga jauh-jauh dari industri perbankan. Apa itu customer driven? Customer driven secara simple merupakan suatu strategy memasarkan dan menjual produk atau jasa yang disesuaikan dengan kebutuhan konsumen. Era bisinis sekarang sebuah perusahaan  tidak dapat lagi memaksakan produknya ke konsumen (product driven), konseumen semakin kritis dan lebih memilih barang/jasa yang sekiranya diperlukan saja. Lalu apa hubunganya dengan perbankan syariah? Oke izinkan mengupas untuk mengupas opiniku satu persatu.

Seperti yang kita ketahui krisis 1998 telah membawa dampak yang amat besar pada system keuangan negara ini salah satunya perbankan. Satu persatu bank konvensional rontok, bank-bank yang masih mampu berdiri sendiripun oleng dan banyak yang mendapat BLBI serta tidak sedikit yang bangkrut atau harus melakukan merger. Salah satu bank yang mampu bertahan dari krisis adalah bank Muamalat yang merupakan bank Syariah pertama di Indonesia dan satu-satunya kala itu. Munculnya bank Syariah di Indonesia sendiri terbilang telat, Muamalat sendiri berdiri tahun 1992 padahal Negara-negara OKI sudah mulai mendirikan bank syariah sejak tahun 1970 an. Ini menandakan political-will Indonesia belum menunjang perkembangan bank syariah padahal Indonesia kala itu di konfrensi OKI 1970 di Pakistan merupakan salah satu penggagasnya pembentukan bank Syariah.

Sejak tahun 1998 masyarakat dunia khususnya Indonesia tersadarkan bahwa sistem perbankan yang sekarang digunakan sangat rentan sekali terkena imbas gejolak ekonomi, bukan berarti perbankan  syariah tidak rentan tapi resiko yang dihadapi lebih kecil. Sistem perbankan konvensional berjaya dikala ekonomi dalam keadaan stabil namun dikala bunga pinjaman menumpuk dan para debitur mengalami gagal bayar dan hutang-hutang harus di reschedule atau direstrukutrisasi maka timbulah gejolak ekonomi (masih untung bisa di reschedule dan restrukturisasi, kalau benar-benar gagal bayar jadilah krisis ekonomi). Contoh yang terbaru adalah subprime mortgage tahun 2008 yaitu krisis keuangan di Amerika Serikat karena macetnya kredit kepemilikan rumah. Sekali lagi membuktikan bahwa perbankan dengan menggunakan system compound interest (bunga berbunga) membawa dampak yang merugikan. Bila dibandingkan dengan perbankan syariah bukan berarti tanpa resiko, semua pasti ada resikonya namun bagaimana cara mengelola resikonya sendiri. Sistem yang dianut bank syariah (Mudharabah, musharakah, murahabah, dan ijarah) mampu meminimalkan resiko itu dengan memberikan ketetapan karena system ini   dapat memberikan banyak manfaat daripada mudharat, ambil contoh simpelnya Karti Laksmini ingin memiliki sepeda motor merk Gonda Super T seharga Rp. 10.000.000. Karti ke Bank Syariah  untuk mendapat pembiayaan. Oleh BS ditawari pembiayaan dengan prinsip murabahah. Jangka waktu 1 tahun, dibayar secara angsuran per bulan. Karti dan BS menyepakati marjin untuk BS adalah Rp. 1.000.000.

dalam contoh tersebut, Bank Syariah bertindak sebagai penjual dan nasabah Karti sebagai pembeli. Keduanya mengetahui harga pokok dan menyepakati marjin.

Angsuran per bulan = harga pokok + marjin

Jangka waktu

Rp. 10.000.000 + Rp. 1.000.000

12 bulan

= Rp. 916.667

Letak kekuatan sistem ini adalah nasabah dan Bank sama-sama tahu akadnya dan isi akadnya jadi tidak ada timbul biaya-biaya diluar akad yang telah disepakati yang bisa membengkak sedemikian besarnya ditambah lagi pada kasus ini Bank Syariah meng take over dulu barangnya baru setelah itu dijual ke nasabah jadi tidak ada istilah pembiayaan namun guna memudahkan istilah pembiayaan tetap dipakai. Berbeda dengan bak konvensional jumlah pembayaran bunga bisa naik atau turun tergantung suku bunga, semakin lama menunggak semakin besar bunganya.

Lantas apa hubunganya dengan customer driven? Sebenarnya bila mau sistem perbankan Indonesia bisa saja berubah ke syariah bila memang ada keinginan dan kebutuhan dari masyarakat  yang begitu kuat pada produk-produk perbankan syariah secara masive (semua orang menginginkan produk syariah) karena sudah dijelaskan sebelumnya bahwa customer driven dasarnya adalah pada kebutuhan konsumen. Lalu bagaimana caranya membuat masyarakat indonesia merasa butuh produk-produk bank syariah? Bila menurut aku pribadi adalah pada edukasi dan sosialisasi pada masyarakat luas serta ada political will dari pemerintah. Tapi ada yang perlu digaris bawahi, perbankan sekarang sudah mulai mengarah pada mencari pendapatan yang berasal dari Fee Based yaitu berasal dari biaya jasa transaksi keuangan dimana bank sangat memanjakan nasabahnya dengan fasilitas yang mampu memudahkan dalam kecepatan bertransaksi. Hal ini menjadi salah satu faktor penting kenapa masyarakat masih banyak bertahan menggunakan bank konvensional karena bank-bank syariah sendiri masih belum mampu menghadirkan aplikasi/fitur yang mumpuni dan belum mampu memaksimalkan produk-produk yang berbasiskan  customer driven. Disamping itu juga ada sebagian anggapan menabung atau pembiayaan di bank konvensional dan syariah tidak ada bedanya, ini dikarenakan masyarakat lebih melihat pada hasil akhir yang harus dibayarkan ke bank yang relatif sama bahkan kadang bank syariah jatuhnya lebih tinggi dari pada bank konvensional. Untuk itu perbankan syariah harus mampu mengedukasikan dan mensosialisakan keunggulan produk-produknya secara luas.

Dilihat dari jumlah penduduk Indonesia yang cukup besar (240 juta yang mayoritas muslim) dan GDP yang sudah mencapai $3000/tahun sudah sewajarnya ini menjadi peluang pasar untuk ekspansi bisnis terutama  untuk perbankan syariah. Tinggal bagaimana bank syariah mampu menciptakan perasaan bagaimana masyarakat membutuhkan produk-produk perbankan untuk penempatan dana, investasi dan pembiayaan dengan edukasi dan keunggulan sistem syariah yang lebih aman dibandingkan dengan bank konvensional. Masyarakat yang saat ini memiliki segmen masyarakat yang mengambang (floating society). Artinya dalam akses perbankan masih cenderung tertarik pada besaran imbal hasil yang diperoleh ketika menabung atau menyimpan sebagian dananya pada lembaga keuangan. Pengaruh dual banking system juga sepertinya membuat masyarakat cenderung opportunis jika akan menyimpan dananya di bank. Sejauh ini bank syariah telah memberikan imbal hasil dengan equivalent rate yang mencoba tetap menjadi pilihan bagi masyarakat untuk menabung ataupun investasi. Karakteristiknya memang sama sekali berbeda, yaitu pada imbalan yang secara syariat dibenarkan dan bukan tergolong riba sebagaimana bunga bank pada umumnya. Maka dari itu bank syariah perlu mengetahui apakah equivalent rate yang selama ini diterapkan mempengaruhi penghimpunan dana pihak ketiganya.

 Untuk saat ini asset bank syariah baru mencapai kurang lebih 86 trilun dan peningkatan asetnya sebesar 33% selama lima tahun belakanga ini  (gabungan dari seluruh bank Syariah) bandingkan dengan aset sekelas bank BRI dan BCA yang mencapai diatas 300 triliun sedangkan bank Mandiri sendiri sudah mencapai 400 triliun lebih. Untuk Dana Pihak Ketiga (DPK) sendiri hingga bulan Mei 2011 perbankan syariah sudah mencatat kenaikan sebesar 35% dibandingkan periode yang sama tahun lalu, pertumbuhan bisnis perbankan syariah juga terlihat pada akhir 2010 yang mencapai 47%. “Pembiayaan bank-bank syariah di Indonesia pada akhir Maret lalu (kuartal 1-2011) mencapai Rp74 triliun. Sebanyak 70% dikontribusi oleh pembiayaan UMKM. Sisanya yakni 30% disumbang oleh pembiayaan korporasi. Secara year on year (yoy), pertumbuhan pembiayaan pada kuartal 1-2011 sekitar 38%.

Dalam hal pertumbuhan dana pihak ketiga menjadi sangat penting untuk tetap terjaga pertumbuhannya, yaitu tidak lain untuk kepentingan semakin masifnya pembiayaan yang akan diberikan bank kepada calon nasabah pembiayaannya dan untuk mengembangkan ekonomi masyarakat dalam pola bisnis di sektor riil. Basis pembiayaan yang harus memiliki underlying asset atau menyentuh lini rill juga harus didukung dengan semakin besarnya dana yang dimiliki bank syariah untuk bisa mencapai hal itu. Pertumbuhan ekonomi yang diukur dari pertumbuhan sektor riil tentunya sangat berharap bank syariah bisa menjadi kontributor dalam salah satu lembaga keuangan yang pro sektor riil. Sehingga perkembangan ekonomi masyarakat semakin membaik dan pengentasan kemiskinan juga masalah pengangguran bisa teratasi dengan sempurna. Maka, posisi dana pihak ketiga dalam hal ini harus juga menjadi perhatian masing-masing bank syariah. Tetap menjaga nasabah agar tetap loyal menabung di bank syariah dan melakukan upaya-upaya menarik dana kembali dari masyarakat atau segmen lainnya. Dan bank syariah juga setidaknya perlu mengetahui apa saja yang mempengaruhi pertumbuhan dana pihak ketiga tersebut.

Perkembangan perbankan syariah ini merupakan sebuah fenomena yang sangat menarik dan unik, karena fenomena ini terjadi justru di saat kondisi perekonomian nasional berada pada keadaan yang mengkhawatirkan. Di tengah ketidakstabilan ekonomi saat ini dan masih kurangnya tingkat kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah, bank syariah tetap dapat mampu berdiri tegak di tengah berbagai terpaan rintangan dan persaingan yang terjadi. Potensi yang besar tersebut, harus memacu institusi perbankan syariah sendiri untuk lebih kreatif, inovatif, dan teroganisir dengan profesional. Tantangan saat ini adalah sejauhmana pelaku perbankan syariah bisa memformulasikan kegiatan-­kegiatan dalam membangun perekonomian nasioanal setelah mendapat payung hukum. Pemerintah Indonesia sendiri sudah mengerluarkan produk hukum yang menjadi landasan dalam bisinis perbankan syariah di Indonesia yaitu  UU No. 21 Tahun 2008 Tentang Perbankan Syariah yang merupakan salah satu Political Will. UU ini merupakan jawaban kebutuhan masyarakat terhadap produk-produk bank syariah, jadi seandainya memang kebutuhan masyarakat sangat besar dan memang bila dikehendaki masyarakat dan dari segi bisnis menguntungkan (bila tidak menguntungkan  maka UU  akan di tolak) serta atas desakan masyarakat luas bisa saja negara kita ini menganut sistem perbankan syariah.

Sumber: http://www.republika.co.id/berita/bisnis-syariah/keuangan-perbankan/10/11/25/148694-bi-optimistis-pertumbuhan-perbankan-syariah-berlanjut-di-2011

http://omperi.wikidot.com/sejarah-hukum-perbankan-syariah-di-indonesia

http://erwinnomic.blogspot.com/2011/02/dana-pihak-ketiga-bank-syariah.html

http://www.syariahmandiri.co.id/2011/06/mei-2011-aset-perbankan-syariah-rp-104-t/

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: