jump to navigation

Ga Jauh-Jauh dari akuntansi Agustus 24, 2011

Posted by aditkus in Daily Life.
Tags: ,
trackback

“ Pilih mana, Jadi RO atau jadi Analisis kredit?” Tanya salah satu dari dua orang interviewer yang duduk di depanku.

 “Sesuai dengan background  sebagai lulusan akuntansi. Saya lebih memilih yang berbau analisis saja Pak biar nyambung dengan latar pendidikan”. Jawabku dengan pede padahal ga ngerti itu RO dan analisis kredit itu apa.

2 bulan kemudian aku dinyatakan diterima kerja untuk posisi analis kredit.

…………………………………………..

Pastinya sudah jadi rahasia umum di Indonesia kalau sudah terjun ke dunia kerja sering jauh dari background pendidikan. Ambil contohlah  alumnus salah satu institut yang  katanya pertanian  banyak yang kerja di perbankan, banyak sarjana teknik yang jadi sales dan masih banyak lagi. Akupun pertama kalinya berpikir seperti itu, setelah lulus aku mencoba melamar posisi yang bukan backgroud pendidikan salah satunya melamar menjadi marketing di salah satu anak perusahaan Telkom. Usaha ku yang pertama ini gagal, Oke lah ga apa-apa masih ada kesempatan yang lain. Dilain kesempatan aku mencoba melamar di posisi yang berbeda di perusahaan produsen makanan dan minuman, kali ini di posisi sales dan ini pun gagal juga. Kalau dihitung-hitung aku sudah masukin lamaran ke 50 perusahaan yang berbeda dengan berbagai macam jenis industri. Salah satunya di Bank plat merah, buru-buru ikutan tes tulis baru saja naruh lamaran trus pengumuman siapa saja yang berhak ikut tes awal namaku tidak ada dilist. Kata temen-temen sih tes scanning wajah dan kecakepan. Pernah juga ikut tesnya MODP bank Syariah, 2 kali di bank yang berbeda  dan hasilnya gagal maning yang terakhir di salah satu anak perusahaannya pertamina dan seperti biasa gagal di interview (kali ini lamar posisi akuntansi)….ya sudah lah belum jodahnya pikirku. Aku memang ga niat untuk kerja sesuai latar belakang pendidikan, pengenya sih nyari penagalaman yang baru. Aku sendiri dengar dari beberapa teman yang senior, banyak dari ilmu yang dipelajari sewaktu kuliah hampir-hampir tidak terpakai saat bekerja. Hanya dibidang-bidang tertentu saja yang sifatnya profesi seperti kedokteran, apoteker, dan akuntan yang benar-benar terpakai. Kalau pun boleh jujur kenapa aku mencoba mencari pekerjaan Non akuntansi padahal aku sendiri backgroundnya akuntansi, itu karena disebabkan aku ga pede sama ilmu yang aku kuasai. Coba deh tanyain soal atau konsep akuntasi yang simpel-simpel aja pasti lupa

Oh ya salah satu penyebab yang menyebabkan aku ga pede sama akuntansi adalah gara-gara dulu pernah melamar di KAP lokal di Surabaya di dua tempat yang berbeda dan  ga keterima dua-duanya. Sejak saat itu aku jadi ga pede, dan aku sendiri mempertanyakan keilmuan akuntansi yang aku miliki. Sejak saat itu pula bila ada lowongan yang buka akuntansi aku ga pernah lamar, paling poll bagian keuangan yang aku lamar. Namun nasib berkata lain ga ada satupun pun yang lolos. Tapi yang uniknya dan bikin aku ga percaya. Pertama aku lolos tes tulis PWC (walaupun akhirnya gagal di interview, lagi-lagi), PWC boo PWC…salah satu kantor akuntan public big four di Dunia. Banyak temen-temenku yang notabene lebih pinter dari aku gagal tes tulis, nah aku yang pas-pasan menjurus bodoh ini lolos. Lalu yang selanjutnya aku lolos lagi-lagi tes tulis, kali ini di BPK, tau BPK kan? Badan Pemeriksa Keuangan yang core ilmunya perlu akuntansi tapi gagal lagi di interview. Sejak saat itu akhirnya aku mencoba melamar untuk posisi akuntansi, hasilnya cukup lumayan pertama di perusahaan kargo dan di konsultan manajemen.

Dari tadi cerita kegagalan terus nih, kapan yang berhasilnya? Sebenarnya dari hampir 50 lamaran yang aku masukin aku keterima kerja di empat tempat. Pertama di Head Office perusahaan otomotif di Jakarta sebagai MT FInance, aku tolak Karena gaji sama biaya hidup diJakarta impas bahkan cenderung defisit (mending kerja di Surabaya atau sekalian di Banjarmasin, masih bisa nabung). Kedua di Konsultan manajemen di Surabaya (sempat kerja sebentar), disini gajinya lumayan besar untuk ukuran kota ini.  Ketiga di salah satu Perusahan kargo domestik  cabang Surabaya, pada akhirnya aku tolak karena aku sudah diterima di BNI. The last but not the least  adalah aku akhirnya menerima tawaran posisi sebagai analis kredit di BNI. Aku sendiri  buta dengan posisi pekerjaan ini karena baru dengar dan tahu. Dalam pikiranku yang namanya kerja di bank itu ga jauh-jauh dari teller dan customer service atau ngitung duit aja,  seperti penuturan teman-temanku yang udah kerja di bank pada umumnya karyawan baru ditraining lagi dan dapat ilmu baru menyesuaikan dengan posisi dan siapa saja bisa masuk ga peduli dengan latar pendidikan.

Oke sekarang cerita berlanjut pas pelatihan. seperti pada umumnya training  seorang trainee tentunya dikasih modul. Beserta modul juga ada silabi, setelah mengecek modul semuanya ga ada yang berbau akutansi tapi waktu liat jadwal di silabi ada satu nama yang ga asing  yaitu BASIC ACCOUNTING. Awalnya aku piker cuman sekedar pengenalan dan belajar menganalisis rupanya belajar akuntnasi dari awal. Yah memang sepertinya bodohnya ga ilang-ilang, walaupun akuntnasi dasar tapi tetap aja salah bahkan nilainya kalah sama anak non akuntansi yang satu kelas sama aku. Apess tenan!

Yang namanya Basic Accounting, tentunya belajar dari awal banget hingga sebuah laporan keuangan selesai dibuat. Lalu ada satu sesi membuat laporan  keuangan berdasarkan hasil dari interview dengan calon debitur, aku sendiri merasa heran buat apa pelajaran ini. Oh ternyata aku baru tau kalo aku diarahin untuk analis kredit ritel dan ukm. Disini aku diplot yang membuat laporan keuangan trus di analisis karena para pengusaha kecil ga ngerti apa itu akuntansi dan tetek bengeknya.  Boro-boro buat laporan keuangan ,debit kredit saja belum tentu ngerti tapi dari sisi bank sebagai lembaga intermediary adalah potensi besar  dan  resiko gagal bayarnya tidak sebesar corporate. Aku pun sudah terbayang betapa rumitnya nanti pekerjaanku, aku sendiri punya pengalaman magang untuk audit sebuah koperasi kecil yang laba setahunnya mencapai 200 juta an sudah sangat menguras tenaga dikarenakan dokumen yang dimiliki sebagai penunjang laporan keuangan banyak yang tidak ada serta SDM yang ada tidak menguasai akuntansi. Alhasil pegawai koperasi tersebut seenaknya sendiri melakukan  pencatatan menurut cara dia bukan berdaasar pada standar yang berlaku umum. Bukan hanya Auditor yang bingung konsultan manajemen yang mereka hire juga kerja extra keras dan ujung-ujungnya  pekerjaan menjadi molor sekali.

Selama setahun cari kerja wira-wiri kesana kemari, cari posisi non akuntansi. Eh taunya dapatnya kerja juga dari Surabaya dan kudu mendalami akuntansi lagi. Yah memang ternyata kalo memang jodoh ga bakalan kemana

Komentar»

1. asri putri rizqiah - September 9, 2011

paragraf terakhir membingungkan, jadi sekarang di sby lagi?


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: