jump to navigation

Kamera Saku, Kamera Mungil dan Praktis Agustus 17, 2012

Posted by aditkus in My Photowork.
Tags: , ,
trackback

Kamera mungil yang disebut kamera saku atau dalam bahasa Inggrisnya disebut pocket camera. Kamera yang memiliki berat 170 gram ini juga dinamai kamera otomatis (automatic camera) karena hampir seluruh sistemnya berjalan secara otomatis, tidak perlu mengatur kecepatan shutter, diafragma (aperture), focus, dan modus-modus lainnya karena  auto focus dan auto exposure bekerja secara otomatis sehingga sangat memanjakan penggunanya. Hampir semua kamera saku dilengkapi auto flash, yaitu lampu kilat internal yang secara otomatis menyala saat pencahayaan kurang mencukupi.

Gambar 1
Kamera saku yang mungil dapat dimasukan ke saku baju atau celana

Diantara kalangan fotografer menamai kamera saku ini dengan “point-and shoot”, karena penggunaan kamera ini begitu mudah. Tinggal bidik objek dan tekan tombol, “klik…!” dan voila pada saat itu juga foto langsung bisa dilihat di layar LCD. Kamera mungil ini sangat cocok untuk pemotretan sederhana yang tidak membutuhkan hasil gambar khusus. Saat ini semua kamera saku ada fasilitas zoom yang menadai, mulai dari wide angle sampai tele. Mungkin untuk belajar fotografi bisa saja memulai dari kamera saku ini, jangan berkecil hati banyak kok yang mampu mengahasilkan karya seni dari kamera saku saja.

Gambar 2
Hasil foto dengan kamera saku, seluruh bagian gambar tampak tajam.

Gambar 3
Selective focus seperti foto ini tidak dapat dilakukan kamera saku

Kamera ini memiliki kelebihan yaitu ringkas bisa dibawa kemana-mana sehingga bisa digunakan sewaktu waktu cocok untuk belajar fotografi dalam hal menangkap momen kejadian. Berbeda dengan pemegang kamera DSLR yang harus menyiapkan kameranya dan peralatan sesuai dengan keadaan.

Fotografer prefesional jarang menggunakan kamera saku karena tidak bisa menciptakan gambar khusus sesuai keinginan fotografer. Beberapa keterbatasan kamera saku adalah:

  • Kamera saku tidak bisa melakukan long exposure  secara sempurna. Pada pencahayaan  minim(low light) seperti sunset, pertunjukan teater atau konser music, dan foto pada malam hari dibutuhkan kecepatan rendah.
  • Lensa tidak dapat diganti sesuai dengan kebutuhan. Lensa kamera saku terlalu pendek untuk memotret satwa liar,lahar gunung berapi, dan objek-objek yang harus dipotret dari jarak jauh.
  • Peralatan pendukung seperti tripod, lampu flash eksternal dan tudung lensa tidak bisa selalu dipasang pada kamera saku.

Gambar 4
Kamera saku tidak bisa dipasang tudung lensa yang fungsinya membantu membatasi cahaya yang masu ke diafragma.

Karena beberapa keterbatasan inilah maka kamaera saku tidak mampu memenuhi kebutuhan fotografer professional. Namun jangan khawatir bukan berarti dengan kamera saku mengurangi kreatifiktas, seperti yang sudah saku sebutkan di tulisan sebelumnya bahwa  suatu foto berseni tergantung pada orang yang memegang kamera itu sendiri. Ambil contoh, siapa yang tidak kenal Darwis Triadi fotografer terkenal yang dalam kesehariannya banyak menggunakan kamera saku. So ga usah khawatir untuk masalah alat yang digunakan yang penting nilai seni yag terkandung pada foto itu. Toh sebenarnya apa sih fungsi dokumentasi dalam bentuk gambar? Kan ke lebih dalam momentum yang ingin diabadikan. So dari sini lah kita bisa belajar fotografi yaitu mendokumentasikan. Ingat belajar fotografi tidak melulu di monopoli oleh yang memiliki kamera DSLR!!!!

Sumber: Your Guide to Good Photography oleh Rakhmat Supriyono

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: